Oleh : Arifah Khoirunnisa

Seorang gadis dengan dandanan ala mahasiswa, buku catatan di hadapannya dengan secangkir kopi yang mengepulkan asap bahkan belum tersentuh. Matanya menatap kosong keluar jendela besar cafe di sampingnya. Entah apa yang dipikirkannya ataupun yang dilihatnya. Saat ini dia tampak lebih baik-baik saja dibandingkan beberapa bulan yang lalu.

Beberapa bulan yang lalu, hujan yang turun tidak hanya mengguyur kota pahlawan, tapi juga mengguyur pipi mulus dan kerudung panjangnya. Setiap kali hujan turun, gadis itu selalu menampakkan dirinya, ditempat duduk yang sama dan melakukan hal yang sama. Membayar kopinya yang tidak pernah tersentuh. Tidak pernah sekalipun membawa teman, selalu sendiri. Duduk ditempat yang sama hingga hujan benar-benar reda. Pergi meninggalkan tisu, yang bertuliskan sajak. Hari ini pun begitu.

Hujan kini turun lagi,

Apa kabar duhai kekasih?

Izinkan aku menitipkan salam pada uap air

Kuharap kau titipkan salammu

Bersama hujan turun

Singgah sana mu terlalu jauh untuk ku capai

Sang Penjaga Waktu tak izinkanku

Menemuimu lebih cepat

Secarik sajak diatas tisu yang hanya akan teronggok di kumpulan sampah. Tapi, kenapa selalu dituliskannya. Apa yang ditatapnya bahkan apa yang dipikirkannya hanya menjadi sebuah tanda tanya bagi semua orang.

Hujan masih turun, entah kenapa gadis itu menerobos hujan, kerudung panjangnya melambai seiring dengan langkah kakinya yang berlari menerobos hujan.

***

Hari ini hujan lagi, bahkan hujan mengguyur dari pagi. Anehnya, gadis itu belum nampak keberadaannya. Hingga jam menunjukkan pukul 3 sore. Tersisa gerimis dengan aroma khas hujan. Gadis itu datang ! Dengan kerudung merah maroonnya yang melambai seiring dengan langkah kakinya memasuki cafe. Namun, dia tidak sendiri. Ditemani dengan beberapa orang sebayanya. Mungkin temannya. Tempat yang dipilihnya dan kopi yang dipesannya sama seperti biasanya. Meskipun kopi itu tak sedikitpun disentuh oleh bibirnya.

Kali ini pun sama, selembar tisu bertuliskan sebuah sajak tampak sengaja ditinggalkannya diatas meja.

Aku baik-baik saja

Hingga saat ini aku baik-baik saja

Percayalah…

Aku tak menangis lagi kali ini

Kali ini beri aku izin

Untuk merindumu lagi

Jika hujan turun nanti

Baiklah. Kuharap gadis itu memang baik-baik saja

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *