Sumber Gambar: Tim Liputan LPM Mercusuar 

Gedung Teater Balai Budaya, Minggu (5/7) – Pertunjukan seni teater dan Pameran Mozaik Jurnalistik yang bertajuk Dramaturgi XXI: Sidang Susila, karya Agus Noor dan Ayu Utami, sukses digelar. Ramai dan padatnya bangku penonton untuk melihat karya dari mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia UNAIR menjadi bukti kesuksesan pementasan. Naskah klasik karya Ayu Utami dan Agus Noor mengisahkan seorang penjual mainan yang bernama Susila yang dijebloskan ke penjara tepat pada hari pengesahan undang-undang moralitas. Pementasan ini menyiratkan kritik tajam terhadap elit yang menggunakan kekuasaannya untuk menjadikan rakyat kecil menjadi tumbal politik. Menurut sang sutradara, hal ini masih terasa nyata hingga kini. 

“Bagaimana para elit itu me- mengayomi dalam tanda kutip, memelihara para.., para orang-orang yang tidak memiliki kuasa, bahkan men- menjadikan seseorang sebuah kambing hitam perlawanan itu masih terjadi sampai saat ini,” jelas Annisa, sang sutradara.

Acara dibuka oleh pembawa acara yang turut dihadiri oleh Wakil Dekan 1, Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Bapak Dr. Mochtar Lutfi, S.S., M.Hum., serta Dr. Puji Karyanto, S.S., M.Hum., selaku dosen pembimbing mata kuliah Dramaturgi. Mewakili dekan, Wakil Dekan I menyampaikan apresiasi kepada panitia dan pemain. Ia berharap pementasan ini dimaknai secara akademis dan menjadi oase intelektual. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia menyampaikan bahwa “Sidang Susila” menggambarkan realitas sulitnya mencari kebenaran. Tidak lupa Dr. Puji Karyanto, S.S., M. Hum., menyampaikan ucapan terima kasih kepada panitia, pemain, serta para donatur pada acara tersebut. 

Diangkatnya naskah karya Agus Noor dan Ayu Utami yang telah banyak dibawakan dalam pementasan membuat seluruh tim produksi menunjukan ciri khas karya mereka. Sang sutradara mengungkapkan bahwa salah satu ciri khas yang ingin ditonjolkan dalam “Sidang Susila” adalah unsur satir yang menurutnya masih relevan hingga saat ini. 

“Banyaknya unsur-unsur apa namanya, satir ya. Menurutku hal-hal yang sangat relevan di dunia ini untuk era saat ini, di negara ini, kita sebagai WNI sudah sangat merasakan segala bentuk tindakan susila dan asusila dari pemerintah,” ujarnya.

 Ia juga menambahkan bahwa naskah ini bukan hanya naskah yang merepresentasikan zaman ketika pertama kali ini ditulis, tetapi juga mampu menggambarkan situasi hingga hari ini. Pemeran Susila turut menuturkan bahwa karakter yang ia mainkan menggambarkan sosok yang, tetap memegang teguh nilai-nilai kemanusiaan meskipun memiliki atar belakang pendidikan rendah. Dalam memainkan perannya, ia mengungkap bahwa tantangan datang dari luar panggung karena perannya yang menyentuh isu tabu dan tergolong sensitif. 

“Ah, mungkin kesulitannya lebih ke luar pementasannya sih, Kak. Mungkin memang karena peran yang saya mainkan ini agak sedikit arahnya ke tabu, saya agak susah untuk memperkenalkan ke orang-orang, apalagi ke keluarga. Karena keluarga saya sendiri agak sensitif terhadap hal tersebut,” pungkas pemeran Susila.

Di balik pesan mendalam yang ingin dikeluarkan oleh sang sutradara dan tantangan yang dihadapi pemain, terdapat proses panjang yang dirasakan serta ide kreatif yang muncul. Pimpinan Produksi, Anisa Febi Ananda, menjelaskan proses latihan intensif berlangsung dua hingga tiga bulan. Pemilihan naskah klasik ini didasarkan pada statusnya sebagai naskah wajib dibaca bagi mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia. Oleh karena itu, tim produksi menambahkan sejumlah adegan, elemen tari, hingga lantunan sajak agar pementasan tidak monoton. 

Berangkat dari ide kreatif tersebut, mulai dari pimpinan produksi, sutradara, hingga pemain sepakat berharap pementasan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mampu membuka kesadaran penonton terhadap situasi sosial dan politik di sekitar mereka. Pimpinan produksi berharap Dramaturgi XXI dapat terus dikenang dan memiliki ciri khas tersendiri. Sementara itu, pemeran Susila berharap penonton dapat menerima pesan yang ingin disampaikan melalui pementasan ini. Terakhir, sang sutradara juga berpesan untuk mengerti terhadap keadaan negara sebagai warga negara. 

“Selain tidak hanya terhibur, alhamdulillah, tapi juga kupikir teman-teman bisa tahu bahwa sebenarnya mengerti keadaan negara itu penting sebagai orang yang berkewarganegaraan, apalagi tinggal di sebuah negara. Politik itu penting, teman-teman,” pesan sang sutradara.

Penulis: Keira S 

Editor: Novi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *