
Sumber: Dokumentasi Penulis
Siang itu (29/05) sebuah acara digelar di Taman Dwarakerta yang terletak di Jalan Nasional I Porong. Acara tersebut adalah peringatan 20 tahun bencana ekologis lumpur lapindo, saya datang ke sana dengan menaiki sepeda motor berboncengan dari Surabaya bersama teman saya, sesampainya di sana kami memarkirkan sepeda motor kemudian mengisi daftar hadir di meja registrasi yang terletak tepat di depan pos satpam Taman Dwarakerta.
Di sana sudah ada banyak kawan yang menunggu dan sudah di lokasi sejak pagi, kami tiba di sana pada pukul 13.45 WIB, setelah kami mengisi daftar hadir seorang kawan menawarkan kami untuk mengambil makanan yang telah disediakan penyelenggara, menunya adalah nasi, ikan kering, aneka sayuran, tahu, dan tempe. Setelah usai dengan urusan perut, kami pun lanjut untuk berbincang santai dengan teman-teman yang sudah lebih dahulu datang.
Tak lama kemudian, beberapa orang seperti menyiapkan sesuatu. Beberapa orang itu memakai baju adat Jawa seperti blangkon, jarik, kebaya, lurik, dan lain-lain. Tampaknya, mereka sedang menyiapkan prosesi upacara adat “Sambang Buyut”. Saat itu tampak beberapa dari mereka menyiapkan sesajen berupa kopi, buah-buahan, beras putih, dupa, dan lain-lain. Sementara mereka menyiapkan ritual mereka, kami pun juga bersiap untuk mengikuti mereka.
Kemudian, pada pukul 14.30 WIB, mereka berangkat dari Taman Dwarakerta menuju Tanggul lumpur lapindo—yang berada di bekas Kelurahan Siring—yang kini telah tiada. Jarak antara taman menuju lokasi ritual adalah 2,6 kilometer. Terlepas cuaca panas, debu, dan polusi kendaraan menyambut mereka, mereka tampak gigih untuk melanjutkan ritual tersebut. Kami pun mengikuti rombongan mereka bersama beberapa wartawan dan jurnalis dari berbagai media yang ikut memberitakan prosesi ritual tersebut.
Kami pun sampai di tanggul, sementara mereka melakukan prosesi ritual dengan meletakkan sesajen dan menggelar doa bersama. Saya dan berbagai jurnalis lain sibuk mendokumentasikan ritual adat tersebut. Sesekali saya berdiri dan menatap ke arah lautan lumpur yang kini hampir setinggi tanggul. Saya teringat, pada tahun 2011, lumpur belum setinggi itu dan masih banyak bekas reruntuhan rumah warga yang terlihat. Namun, ketika saya kembali 14 tahun kemudian, nasibnya sungguh berbeda.
Setelah mereka usai dengan segala jenis urusan ritual, saya berkesempatan untuk mewawancarai Harwati (50) yang dulunya merupakan warga Kelurahan Siring yang kini telah tenggelam. Beliau menjelaskan bahwa ketika sedang terjadi bencana lumpur tersebut, beliau sedang mengandung anak keduanya pada bulan keempat. Ia bercerita betapa mencekamnya situasi saat itu, seperti bau menyengat yang mereka alami, sampai kemudian lumpur yang semakin banyak muncul ke permukaan.
Harwati menjelaskan bahwa upacara ritual Sambang Buyut ini merupakan keinginan mereka untuk bersilaturahmi dengan arwah leluhur mereka yang mendirikan desa atau melakukan babad alas.
“Kami ingin bersilaturahmi kepada ahli kubur dan leluhur kami yang dulu melakukan babad alas untuk mendirikan desa ini. Selama 20 tahun kami belum pernah bertemu dalam bentuk ritual tradisi Jawa seperti ini,” ujar Harwati.
Ia juga menjelaskan bahwa selama 20 tahun ini, peringatan terjadinya bencana yang merenggut tempat tinggal ribuan manusia itu hanya menggelar acara doa bersama sesuai keyakinan masing-masing saja. Namun, di momentum 20 tahun ini, mereka menggelar upacara adat Jawa.
Tidak hanya Sambang Buyut saja. Harwati juga mengatakan bahwa dulu desanya, sebelum adanya bencana, memiliki berbagai upacara adat yang rutin digelar. Acara tersebut salah satunya adalah ruwat desa yang dilakukan secara rutin di hari-hari tertentu. Biasanya itu dilakukan saat satu Suro, atau saat musim panen, yang bahkan salah-satu kegiatannya adalah membersihkan sumber air. Beliau menjelaskan bahwa dahulu sebelum adanya lapindo, Desa Siring memiliki sumber air yang jernih, ujarnya sambil mengenang masa kecilnya.
Harwati juga menjelaskan bahwa dirinya sampai sekarang masih memegang Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang beralamatkan Desa Siring, hal itu menjadi bukti bahwa dirinya merupakan warga lokal setempat dan juga merupakan salah-satu penyintas ekosida yang hingga sekarang masih menolak untuk lupa. Ia juga menjelaskan bahwa sampai hari ini, setelah 20 tahun, dirinya dan banyak warga belum menerima hak yang seharusnya menjadi miliknya. Di peringatan ke 20 tahun ini, Harwati menegaskan bahwa dirinya sudah tidak berharap dan percaya lagi kepada negara.
“Sebenarnya kita nggak terlalu berharap pada negara ini, kita sudah 20 tahun lho, kita sudah pernah melakukan audiensi, kita sudah pernah mengunjungi instansi-instansi yang terkait, kita juga melakukan segala macam publikasi di media sosial, tapi seolah negara ini diam dan acuh.” ujar Harwati.
Harwati juga menyoroti bahwa datanya dihilangkan oleh negara. Hal itu membuat dirinya dan banyak warga Siring lainnya tidak memiliki hak suara sejak pemilihan umum 2009 dan banyak bantuan tidak bisa diakses karena adanya ketidakcocokan data. Alasannya belum jelas: benarkah datanya hilang karena ketidaksengajaan atau miskomunikasi, atau bahkan datanya dan banyak penyintas lainnya sengaja dihilangkan?
Saat saya tanyai tentang keadaan yang terjadi sebelum adanya bencana lumpur, beliau menjelaskan bahwa tadinya perusahaan Lapindo ingin izin untuk mendirikan pabrik pakan ternak. Warga saat itu mengiyakan rencana tersebut, tetapi lambat laun keanehan mulai terjadi, mulai dari bau menyengat yang berhari-hari tidak hilang lalu suara dentuman keras yang terasa setiap malam, kemudian pada puncaknya lumpur mulai membludak hingga keluar dari pagar pabrik hingga pada akhirnya menenggelamkan seluruh area.
Dari apa yang dialami oleh warga Siring terkait bencana Lumpur Lapindo, kita dapat melihat bahwa alam sering kali dieksploitasi dan dirusak untuk menyenangkan hasrat keserakahan kapital. Alam yang menjadi penopang hidup banyak masyarakat yang saling terhubung satu sama lain, berubah menjadi komoditas yang diperlakukan selayaknya batang tebu yang dibuang setelah manisnya habis.
Pada peringatan dua dekade bencana ekologis ini, para penyintas termasuk Harwati menjelaskan bahwa mereka sekarang lebih menerima dan berdamai pada masa lalunya. Hal ini mungkin disebabkan oleh seringnya mereka diabaikan oleh negara, tetapi semangat mereka di hari anti tambang ini menjadi bukti nyata bahwa mereka menolak tenggelam dan dilupakan. Peristiwa kelam di masa lalu bukan berarti alasan untuk berpasrah, tetapi menjadi semangat kolektif untuk memperlihatkan generasi selanjutnya agar senantiasa menjaga alamnya.
Oleh: Icksan
Editor: Wira