Sumber Gambar : Tim Liputan Khusus LPM Mercusuar

Senin (9/3), kegiatan Safari Kampus berlanjut di Kampus C sebagai bagian dari kontestasi pemilihan calon presiden dan wakil presiden BEM UNAIR di Aula Serbaguna Lantai 1 Gedung Nanizar Kampus C UNAIR. Agenda ini menjadi kampanye terakhir paslon Senja-Shintya sekaligus menjadi rangkaian penutup kegiatan Safari Kampus dalam Pemilihan Umum Raya (PEMIRA) calon presiden dan wakil presiden BEM UNAIR. Kampanye ini menjadi ajang bagi paslon tersebut untuk menyampaikan gagasan serta program kerjanya yang berhubungan dengan sains dan teknologi.

Tidak hanya sekadar menyampaikan visi misi maupun program kerja BEM UNAIR kedepannya, forum ini menjadi ajang bagi kandidat untuk menilai seberapa efektif program kerja mereka berdasarkan pandangan mahasiswa sains dan teknologi. Isu-isu seperti privasi dan keamanan data, pemberdayaan inovasi, hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dilontarkan untuk menilai seberapa jauh perhatian serta solusi yang ditawarkan kedua paslon tersebut terhadap permasalahan yang dialami. Namun, jawaban paslon Senja-Shintya lagi-lagi hanya berkutat pada pernyataan dasar dan solusi kolaborasi ataupun advokasi dalam menyikapi permasalahan. Penggunaan kata kolaborasi digunakan sebanyak tiga kali, sedangkan advokasi digunakan kurang lebih sebanyak dua kali dalam menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh mahasiswa tanpa menjelaskan bagaimana mekanisme dan strategi advokasi maupun kolaborasi tersebut dilakukan.

Dalam menjawab permasalahan terkait pengawalan publik terhadap kebijakan BEM UNAIR nantinya, paslon Senja-Shintya juga menunjukkan kurangnya pemahaman serta penyelesaian terhadap substansi dari permasalahan tersebut. Permasalahan apatisme ataupun kurangnya keterlibatan mahasiswa dalam mengawal kebijakan politik kampus justru hanya dijawab dengan hadirnya dua kementerian utama BEM, yaitu Kementerian Advokasi Kesejahteraan Masyarakat (ADKESMA) serta Kementerian Kajian Aksi Strategis (KASTRAT), sebagai instrumen serta tolok ukur yang mewadahi pengawalan publik tanpa menghadirkan solusi nyata atas pokok permasalah tersebut.

Selain itu, juga terdapat perbedaan pendapat dalam menanggapi permasalahan penggunaan akal imitasi (AI) dalam program kerja bertajuk “Teman Loka” ketika melakukan rangkaian kegiatan Safari Kampus A dan Kampus C. Pada rangkaian kegiatan safari kampus A, Senja-Shintya menyampaikan bahwa penggunaan AI dalam Teman Loka ditujukan sebagai instrumen yang akan merespon permasalahan mahasiswa dan nantinya akan menghubungkan dengan kementerian yang bertanggung jawab ketika sudah aktif. Akan tetapi, pernyataan yang disampaikan pada rangkaian Safari Kampus C justru berbeda, Senja-Shintya justru menyampaikan penggunaan AI dalam Teman Loka hanya sebatas jembatan penghubung kepada kementerian yang bertanggung jawab nantinya. Perbedaan pernyataan tersebut tentunya menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi paslon Senja-Shintya dalam menanggapi suatu permasalahan yang sama. 

Rangkaian kegiatan Safari Kampus C menjadi bukti kurangnya pemahaman paslon Senja-Shintya terhadap substansi serta cara mereka menyikapi permasalahan yang ada di lingkungan kampus. Forum ini sekaligus menutup rangkaian kegiatan kampanye calon Presiden dan Wakil Presiden BEM UNAIR di ketiga kampus Universitas Airlangga.

Penulis: Tim Liputan Khusus LPM Mercusuar

Editor: Tim Editor LPM Mercusuar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *