
Jumat (6/3), Safari Kampus B sebagai bagian dari kontestasi pemilihan Calon Presiden dan Wakil Presiden BEM Universitas Airlangga berlangsung di Aula Gedung A Fakultas Vokasi. Agenda ini menjadi kampanye kedua pasangan calon Senja–Shintya. Safari Kampus B menjadi ajang pembuktian bagi para kandidat untuk menjawab pertanyaan mahasiswa dari rumpun Sosial Humaniora.
Lebih dari sekadar sosialisasi visi dan misi, forum ini memaksa para kandidat berhadapan langsung dengan berbagai isu krusial, mulai dari konflik agraria yang terjadi di Jawa Timur hingga tuntutan mahasiswa agar pasangan calon menawarkan solusi konkret di luar penjelasan visi-misi yang dinilai masih abstrak dan belum menyentuh akar persoalan. Namun, dinamika diskusi di Safari Kampus B terbentur oleh keterbatasan waktu. Panitia hanya mengalokasikan 45 menit untuk sesi tanya jawab. Sebelumnya, pasangan calon datang pada pukul 13.35 WIB dan acara dimulai lima menit kemudian, yakni pukul 13.40 WIB. Format ini membuat forum terasa terburu-buru dan cenderung superfisial. Mahasiswa yang hadir memiliki ruang terbatas untuk membedah program kerja pasangan calon secara mendalam. Akibatnya, forum yang seharusnya menjadi arena adu gagasan justru terjebak pada formalitas prosedural demi mengejar jadwal acara.
Kesempatan untuk menguji integritas pasangan calon akhirnya jatuh kepada LPM Mercusuar dalam sesi tanya jawab yang disediakan panitia. Topik tentang potensi pragmatisme gerakan BEM di tengah konflik agraria yang terjadi di Jawa Timur menjadi sorotan hangat di sesi tanya jawab ini. Namun, alih-alih menjawab dengan langkah konkret terkait persoalan konflik agraria yang disorot, Senja justru menyinggung pembagian teknis antara “fungsi” dan “program” kementerian. Pendekatan ini dinilai sebagai bentuk eskapisme organisatoris. “Jika BEM UNAIR tetap diam terhadap konflik agraria, maka bisa teman-teman pastikan bahwa BEM UNAIR gagal,” kata Senja yang justru memicu perdebatan baru. Bagi sebagian mahasiswa Sosial Humaniora, standar tersebut dianggap terlalu rendah.
Upaya Senja membangun kredibilitas juga muncul melalui narasi pengalaman personalnya menghadapi represi horizontal. Ia mengaku pernah dituduh sebagai “Anarko yang akan mengacaukan Surabaya” oleh sejumlah pendengung. Namun, alih-alih memperkuat argumen, narasi tersebut dinilai justru memperlebar jarak antara pengalaman personal dan kebutuhan solusi sistemik bagi warga yang terdampak konflik agraria. Label “Anarko” dalam konteks ini dipandang hanya menjadi dramatisasi naratif tanpa disertai strategi konkret bagi masyarakat. Kesenjangan visi semakin terlihat ketika Shintya melengkapi jawaban dengan menekankan pentingnya kesadaran digital. “Langkah-langkah sederhana di media sosial akan mengantarkan ke langkah-langkah yang lebih besar,” ujar Senja. Pernyataan ini mendapat kritik dari sebagian mahasiswa yang menilai pendekatan tersebut sebagai simplifikasi terhadap praktik aktivisme.
Dalam konteks forum yang hanya berlangsung selama 45 menit, gagasan tentang “langkah kecil dari media sosial” dianggap kurang memadai bagi sebuah lembaga yang mencita-citakan diri sebagai kompas gerakan nasional, terlebih ketika berhadapan dengan represi negara yang nyata di lapangan.
Penulis: Tim Redaksi LPM Mercusuar
Editor: Tim Editor LPM Mercusuar