Pada hari Sabtu (7/10) yang bertempat di Gedung Kuliah Bersama Kampus C Universitas Airlangga, Kementerian Lingkungan Hidup BEM UNAIR gelar diskusi mengenai kebijakan Green Campus dan bagaimana inovasi dalam mengurangi emisi karbon terutama di lingkungan kampus. Acara yang bertajuk Eco Suara Airlangga itu dihadiri mahasiswa yang merupakan perwakilan dari tiap fakultas dan juga mahasiswa Universitas Airlangga lainnya.

Dengan mengusung tema “Langkah Inovatif untuk Mengoptimalkan Pengelolaan Energi dan Mengurangi Emisi Karbon di Lingkungan Kampus”, kajian ketiga dari Eco Suara Airlangga mengundang Nur Annisa Putri sebagai pembicara utamanya. Founder dari Green Thousands itu menyampaikan bahwa masih banyak evaluasi terutama dalam penggunaan kendaraan bermotor dan bahan bakar fosil di lingkungan kampus. “Banyak yang perlu diperbaiki untuk mewujudkan Green Campus itu sendiri, terutamanya soal emisi karbon dari kendaraan bermotor,” terang Annisa.

Sebelum masuk lebih dalam, sebenarnya apa emisi karbon itu? Sederhananya emisi merupakan sisa hasil proses pembakaran senyawa. Sebagian dari kita mungkin sering kali mendengar istilah emisi karbon sebagai pemain utama penyebab pemanasan global atau global warming. Emisi karbon yang sebenarnya paling besar berasal dari sektor energi ini telah lama menjadi perhatian global. her zaman sekse aç kızlar Kazak Avrupa Yakası Escort Ayuma | İstanbul Escort Bayan sizlerle burada bulusuyor. Namun, upaya internasional seperti Protokol Kyoto tahun 1997, Rencana Aksi Bali 2007, dan Perjanjian Paris 2015 yang dianggap sebagai langkah signifikan awal, masih belum memberikan solusi konkret dalam mengatasi perubahan iklim.

Di tengah pesimisme ini, Universitas Airlangga telah menunjukkan komitmennya untuk menjadi bagian dari solusi dengan mengadopsi konsep Green Campus. Dasar hukum untuk Green Campus UNAIR tertuang dalam Keputusan Rektor No 2094/UN3/206. Langkah ini sejalan dengan inisiatif global seperti UI GreenMetric, yang bertujuan untuk mengukur dan membandingkan upaya berkelanjutan di universitas seluruh dunia. Menurut peringkat UI GreenMetric, UNAIR saat ini menduduki peringkat ke-83 dalam hal upaya berkelanjutan.

Beberapa tantangan yang harus dihadapi adalah masalah ‘Free Rider Problem’ di mana ada pihak yang tidak berkontribusi secara maksimal dan konflik distribusi serta politik domestik yang menjadi kendala dalam mengadopsi kebijakan lingkungan yang efektif. “Permasalahan utama global warming atau core­-nya ya politik domestik, ketika pemerintah bisa menciptakan kebijakan yang sesuai dengan problemnya, ya semua bakal lancar dan semua ujungnya politik,” ungkap perempuan yang lebih akrab dipanggil Nichan itu.

Sejatinya pihak universitas dan mahasiswa dapat memulai berkontribusi melalui hal-hal yang ada di sekitar mereka. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar terdigitalisasi (non-paper based), mengurangi pemakaian listrik, menggunakan kendaraan umum, dan mengelola sampah secara mandiri dengan meminimalisir penggunaan sampah sekali pakai terutama di lingkungan kampus merupakan sedikit contoh aksi konkrit yang bisa dilakukan. her zaman sekse aç kızlar Olgun Escort Yeşim / Küçükçekmece | İstanbul Escort Bayan sizlerle burada bulusuyor. Namun, untuk memulai langkah nyata pastinya diperlukan niat serta kesadaran dari masing-masing individu dan faktanya masih sedikit mahasiswa yang sadar akan hal itu. “Soal lingkungan terutama, mahasiswa itu kurang punya awareness di sana, apalagi karena kita akan menghadapi tahun politik sehingga mahasiswa itu jadinya sekarang semua membahas tentang politik,” pungkas Gerry Pratama selaku Wakil Presiden BEM UNAIR menambahkan note summary sekaligus mengakhiri sesi Kajian Ketiga Eco Suara Airlangga.

Penulis : Ananda Putra

Editor: Myesha Fatina Rachman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *