Sumber Gambar: Tim LPM Mercusuar
Kondisi warga Palestina amatlah jauh dari kata baik. Di tengah serangan bom yang masih berlangsung hingga detik ini pada rakyat Palestina, Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam (UKMKI) Universitas Airlangga menunjukkan aksi solidaritas dan dukungannya pada warga Palestina. Aksi ini berlangsung pada Jumat (17/05) bertempatkan di Amphitheater Kampus B Universitas Airlangga yang berlangsung dari pukul 16.00-17.15.
Acara dibuka oleh moderator dengan dengan menyerukan “Free Free Palestine” dan takbir. Pada aksi kali ini juga mendatangkan tiga narasumber, yakni :
- Dosen Hubungan Internasional UNAIR, M. Muttaqien, S.IP., M.Si., Ph.D.
- Ketua Kementrian Sosial dan Politik (Sospol) BEM UNAIR, Erdogan
- Ketua Umum UKMKI, Rizalul.
Perwakilan dari BEM UNAIR, Erdogan, menjelaskan bahwa ketidakadilan yang dialami oleh rakyat Palestina harus disuarakan. Terutama bagi mahasiswa UNAIR yang bisa menikmati kebebasan, hal yang tidak dimiliki oleh mereka.
“Oleh karena itu kita harus memaksimalkan, keberpihakan kita terhadap hal-hal yang diluar ketidakadilan, hal-hal yang menuntut kebenaran. Apalagi kita mahasiswa kita harus memperjuangkan itu,” ungkap Menteri Sospol BEM UNAIR ini.
Ketua umum UKMKI pun unjuk bicara ia mengungkapkan bahwa sudah 57 tahun lamanya Palestina telah dibantai tanpa henti. Korban dominan berasal dari kalangan anak-anak, yang mana ini merupakan bencana kemanusiaan. Ia juga menegaskan kepada seluruh masyarakat utamanya seluruh masyarakat UNAIR untuk menyebarkan seruan dukungan untuk Palestina ke setiap penjuru agar isu ini terangkat.
“Kita masih punya tanggung jawab. Selama palestina belum merdeka, maka semua negara berhutang kepada palestina. Jangan sampai aksi ini hanya suatu simbolik. Tetapi simbol tidak boleh berhenti hari ini,” pungkas Rizalul.
Seruan aksi kali ini juga dihadiri oleh Dosen Hubungan Internasional UNAIR, M. Muttaqien, S.IP., M.Si., Ph.D. juga ikut menyuarakan dukungannya terhadap Palestina, dirinya mengungkapkan bahwasanya apa yang terjadi di Palestina merupakan penjajahan.
Sejak tahun 1948 (Israel mendeklarasikan kemerdekaannya) hingga saat ini wilayah Palestina semakin mengecil akibat ulah Israel, hal itu merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional yang dilakukan oleh Israel. Perbuatan Israel ini jelas merupakan tindakan genosida terhadap masyarakat Palestina.
Lebih lanjut, beliau juga mengungkapkan Israel telah melanggar Konvensi Jenewa dimana jurnalis, rumah sakit, pasien yang ada di rumah sakit, para warga sipil yang tidak bersenjata tidak boleh menjadi target.
Namun, kenyataannya Israel tidak mengindahkan semua itu dan terus membombardir seluruh rakyat Palestina. Mereka berjuang menggunakan senjata dalam rangka meraih kemerdekaannya dan hal itu dibenarkan secara hukum internasional. “Mereka adalah pejuang kemerdekaan sebagaimana kita memperjuangkan kemerdekaan kita,” jelas pengajar dari Fisip ini.
“Alasan agenda Palestine Solidarity Camp yang kita bungkus dengan aksi diskusi adalah kita ingin membangun awareness kepada seluruh elemen masyarakat, khususnya civitas akademika Universitas Airlangga. Kenapa sih kita harus berpihak kepada Palestina? agar kita bisa mengambil point of view yang lebih luas,” imbuhnya.
Rizalul menambahkan bahwa UKMKI telah melakukan suatu program, dimana UKMKI saat ini aktif menggalang donasi untuk Palestina, kemudian UKMKI juga akan membentuk suatu akun instagram yang akan berkolaborasi dengan ormawa lain membahas seputar Palestina.
“Kita akan koordinasi kepada masing-masing musala ataupun masjid yang ada di Universitas Airlangga untuk menyediakan sudut keadilan. Disana nanti berisi tentang himbauan-himbauan beserta informasi tentang Palestina. Jadi fungsinya adalah mereminder menjaga isu ini agar tetap ada di tengah kehidupan perkuliahan kita,” kata Rizalul
Tuntutan kepada UNAIR
Ketua UMKI UNAIR itu pun menyampaikan tuntutannya kepada UNAIR, “Tentunya kita ingin bahwa Universitas Airlangga melalui berbagai perangkatnya terus menyuarakan keadilan kepada Palestina. Kemudian untuk membuka peluang-peluang para pelajar Palestina untuk lebih memiliki akses pendidikan di UNAIR. Kita ingin para pimpinan UNAIR ikut aktif menyuarakan kemerdekaan Palestina melalui sosial media, kegiatan offline, melalui mata kuliah yang dihadirkan. Kita ingin aksi konkret dari Universitas Airlangga,”
Terakhir, Rizalul juga berpesan bahwa “Jika mendidik adalah tanggung jawab setiap orang yang terdidik, maka memperjuangkan kemerdekaan adalah tanggung jawab bagi setiap insan yang diberikan nikmat merasakan kemerdekaan.”
Acara ditutup dengan doa, penandatanganan petisi untuk Free Palestine, serta sesi foto bersama.
Penulis: SI-12
Editor: PD-08