Dosen Kimia Unair Kenalkan Produk Disinfektan Ramah Lingkungan

Dosen Kimia Unair Kenalkan Produk Disinfektan Ramah Lingkungan

Sumber: KlikDokter

Pandemi COVID-19 menyebabkan banyak keresahan, terutama mengenai penjagaan kesehatan dan kebersihan tubuh sebagai salah satu upaya memutus mata rantai penularan COVID-19 sebelum virus menginfeksi manusia. Upaya itu dilakukan dengan menyemprotkan desinfektan pada pakaian yang dikenakan dan tubuh bagian luar, seperti telapak tangan dan juga pakaian. Desinfektan juga sering digunakan untuk menyemprot jalanan dan rumah-rumah warga selama masa pandemi COVID-19.

Namun hal tersebut kemudian memunculkan keresahan baru di tengah masyarakat. Timbul pertanyaan seputar keamanan penggunaan disinfektan pada tubuh serta bagaimana dampaknya bagi lingkungan.

Disinfektan merupakan bahan kimia yang digunakan untuk menghambat atau membunuh mikroorganisme (misalnya pada bakteri, virus dan jamur, kecuali spora bakteri) pada permukaan benda mati, seperti furniture, ruangan, lantai, dan lain-lain. Disinfektan tidak digunakan pada kulit maupun selaput lendir karena berisiko mengiritasi kulit dan berpotensi memicu kanker. Maka dari itu, diperlukan adanya produksi desinfektan yang ramah lingkungan dan aman bagi tubuh.

Dr. Muji Harsini Dra., M.Si, dosen Departemen Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UNAIR, menjelaskan bahwa pada dasarnya semua disinfektan yang beredar di pasaran telah memenuhi persyaratan sebagai disinfektan, yaitu dapat membunuh mikroba yang ada pada benda mati seperti lantai, ruangan, kain, peralatan rumah tangga, ataupun peralatan kesehatan yang digunakan di luar tubuh manusia. Akan tetapi yang perlu digarisbawahi adalah bahwa tidak semua disinfektan memenuhi syarat jika dikenakan/disemprotkan langsung ke tubuh manusia maupun hewan.

Contoh paling sederhana, sambungnya, menghirup alkohol dalam hand sanitizer akan menyebabkan pusing, apalagi jika digunakan untuk disemprotkan di ruangan. Sehingga untuk keperluan bilik sanitasi (bilik desinfeksi), ruangan kantor, rumah sakit, rumah tangga, hingga ruang yang banyak digunakan dalam pertemuan dan lain-lain, diperlukan disinfektan yang tidak berbahaya, tidak mengiritasi kulit, dan tidak mengganggu pernafasan manusia yang didesinfeksi.

“Untuk itu kami menggunakan bahan anolyte sebagai bahan cairan disinfektan yang aman dan ramah lingkungan,” jelasnya.

Anolyte adalah bahan kimia yang mengandung komponen aktif  HOCl, NaCl residu dan air. Anolyte dibuat melalui elektrolisis larutan garam NaCl menggunakan membran bipolar semipermeabel sebagai pemisah antara ruang anoda dan ruang katoda. Dalam ruang anoda terjadi proses oksidasi ion Cl menjadi Cl2 yang selanjutnya bereaksi dengan H2O menjadi HOCl. Sedangkan pada ruang katoda terjadi reduksi air menjadi gas H2 dan ion OH yang bersifat basa.

Dr. Muji menjelaskan bahwa berdasarkan studi berbagai literatur dan uji mikrobiologi yang telah dilakukan, anolyte dengan bahan aktif HOCl dapat berfungsi sebagai cairan biologis disinfektan pembasmi hama yang memberi kekuatan membersihkan dan memiliki keuntungan dibanding klorin dengan tanpa efek samping, menjamin tidak ada racun atau efek samping lain bagi manusia atau hewan. Terbukti secara klinis seratus kali lebih efektif dibanding pembersihan dengan pemutih dan membunuh lebih banyak 99% bakteri, virus, germs dan pembawa penyakit berbahaya lainnya. Karena anolyte dapat terurai dengan sendirinya, maka anolyte tidak merugikan lingkungan ataupun kehidupan dalam air.

Pada proses produksi desinfektan anolyte, Dr. Muji tidak sendiri. Beliau dibantu dalam akomodasi peralatan dan pembuatan desinfektan anolyte oleh beberapa pihak akademisi.

“Untuk peralatan dibantu oleh Bapak Yhosep, staf dosen Fisika Instrumentasi FST Unair. Untuk uji mikrobiologi dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi, Departemen Biologi FST Unair. Selain itu, kami dibantu oleh beberapa mahasiswa tugas akhir, serta dua orang karyawan Laboratorium Kimia Analitik FST Unair,” ungkapnya.

Dr. Muji juga berpesan kepada seluruh mahasiswa agar tetap semangat dalam belajar serta banyak mencari informasi dan ilmu pengetahuan, baik bertanya kepada dosen maupun informasi yang berasal dari dunia maya. Menjaga kesehatan dengan makanan bergizi dan olah raga. Ia juga berharap supaya pandemi COVID-19 segera berakhir dan kehidupan normal kembali.

Penulis: Nahl Lailatul Ihsan
Editor: Baitiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *