Menyorot Praktik Plagiarisme dalam Mimbar Akademis

Menyorot Praktik Plagiarisme dalam Mimbar Akademis

Rektor terpilih Universitas Sumatera Utara (USU), Muryanto Amin, membuka noktah hitam dunia akademik Indonesia. Melansir Tempo.co, Muryanto dinyatakan melanggar etika akademik dengan menjiplak karyanya sendiri (self-plagiarism). Ia mengirimkan satu karya ilmiahnya ke empat jurnal berbeda tanpa memberikan rujukan karya yang asli.

Praktik plagiarisme memang bukan hal baru lagi. Tak sedikit akademisi yang terseret kasus plagiarisme seperti yang pernah dialami Rektor Universitas Negeri Semarang Fathur Rochman, mantan Rektor UNJ, hingga Rektor Universitas Halu Oleo Muhammad Zamrun Firihu. 

Menurut Pemimpin Redaktur Majalah Tempo, persoalan plagiarisme tidak bisa hanya dilihat dari kerugian uang semata, tetapi menyangkut kredibilitas serta sistem pendidikan di perguruan tinggi. 

“Memprihatinkan melihat kodisi kampus yang seharusnya menjadi pondasi bangsa, tempat ilmu pengetahuan diproduksi malah seperti ini,” tutur Wahyu Dhyatmika dalam diskusi umum yang digelar LPM Retorika FISIP, Sabtu (27/2).

Wahyu mengaitkan kasus Rektor USU tersebut dengan sistem kampus yang memberikan kredit pangkat untuk kenaikan jabatan kepada dosen yang banyak mempublikasikan jurnal. 

“Motif satu karya yang sama dikirim di beberapa jurnal itu apa? Esensi pengiriman jurnal kan untuk direview, satu saja cukup. Kalau jurnalnya sama apa yang direview, ini sama dengan korupsi,” tukas alumnus FISIP Unair tersebut. 

Tuntutan untuk gencar melakukan publikasi jurnal juga berkaitan dengan upaya kampus mengejar ranking universitas terbaik. Realitanya, kampus terbaik di Indonesia masih jauh dari kampus-kampus besar di dunia. Hal itu yang mendasari dirumuskannya beragam kebijakan untuk meningkatkan peringkat kampus di Indonesia. 

Menariknya, lembaga pemeringkatan universitas, seperti Webometrics, QS World University, dan Kemendikbud memiliki indikator penilaian yang berbeda sehingga ranking universitas di tiap lembaga juga berbeda. 

“Kampus-kampus itu menyesuaikan, indikator mana yang mampu mereka kejar. Di Unair, mahasiswa angkatan dulu wajib membuat jurnal sebagai syarat lulus. Junal dan scopus index jadi persyaratan untuk lulus, dosen naik pangkat, gelar profesor, mendapatkan dana Pengmas itu output kegiatannya juga jurnal, dan sebagainya,” jelas Ucu Martanto, Dosen FISIP Unair.

Ucu yang juga menjadi pembicara dalam diskusi virtual melalui Zoom Meeting itu menyebut indikator yang terus dikejar tidak dibarengi dengan pembenahan kualitas. Di antaranya manajemen perguruan tinggi yang tidak transparan, teknologi yang belum mumpuni, fasilitas yang terbatas, dan kualitas riset serta pengajaran yang tidak maksimal. 

“Ada tekanan dari pusat, tetapi juga ada lingkungan yang tidak mendukung. Efeknya ya muncul ketidakjujuran akademik, plagiarisme salah satunya,” ungkapnya. 

Di Unair sendiri sempat ramai persoalan jurnal predator atau jurnal yang menjiplak penelitian yang pernah dipublikasikan di jurnal lain. Dosen FISIP Unair yang mengalami kejadian tersebut mempertanyakan bagaimana kampus bisa menerbitkan penelitiannya di jurnal abal-abal. Mengingat ia mendaftarkan jurnalnya melalui Pusat Pengembangan Jurnal dan Publikasi Ilmiah (PPJPI) Unair yang tugasnya melakukan pendampingan publikasi internasional. 

“Kampus seolah didesain untuk mengejar kuantitas, bukan kualitas, mengejar ranking. Yang penting masuk jurnal internasional, tidak peduli kredibel atau tidak,” tandas Wahyu. 

Sementara Ucu melihat ketidakjujuran akademik sebagai fenomena gunung es yang sulit dibongkar. Kendati demikian, menyeruaknya kasus plagiarisme menunjukkan perlunya koreksi terhadap sistem pengelolaan perguruan tinggi. Untuk membenahinya, diperlukan peran dari seluruh sivitas akademika, tak terkecuali mahasiswa agar mengutamakan kejujuran intelektual.

Penulis: L. Fitriani
Editor: Risma D.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *