Terkendala Alat, Praktikum Daring Tidak Berjalan Efektif

Terkendala Alat, Praktikum Daring Tidak Berjalan Efektif

(Gambar: HMKH Unair)

Proses Pembelajaran daring yang dimulai sejak Maret 2020 lalu dirasa tak efektif. Keluhan banyaknya tugas dirasakan mahasiswa, khususnya rumpun kesehatan dan eksakta. Mahasiswa mengeluhkan kurangnya fasilitas dan berbagai pemenuhan lain untuk pelangsungan kegiatan praktikum mandiri (daring).

Meskipun sebelumnya sempat direncanakan berjalan secara blended learning (daring dan luring), pada pelaksanaannnya, Proses Belajar Mengajar (PBM) termasuk kegiatan praktikum tetap berlangsung secara daring.

“Praktikumnya cuma liat video sama dosennya jelasin dikit terus suruh buat laporan gitu,” terang Anasah, mahasiswa Fakultas Keperawatan.

Ia mengatakan praktikum secara daring dilakukan mahasiswa dengan menyusun laporan terkait dengan materi yang disampaikan dosen. Pelaksanaan praktikum diterapkan secara berkelompok.

Menurut Anasah, pelaksanaan praktikum secara daring dirasa kurang efektif lantaran alat dan fasilitas tidak tersedia secara individu.

“Nah itu nggak enaknya online, nggak bisa dipraktekkin langsung, soalnya bahan-bahan dan alatnya terbatas adanya di laboratorium kayak larutan enzim, NaCl, KI-KIO3 dll, terus juga butuh spektrofotometer dan alat-alat lainnya,” keluhnya  saat dihubungi melalui whatsapp pada Sabtu (26/12/2020).

“Kita masih digantung, ada isu katanya  yang maba kuliahnya offline tapi belum ada keputusan final,” imbuhnya.

Hal senada diungkapkan oleh Rizqi, mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), ia mengatakan seluruh praktikum semester ganjil 2020 dilaksanakan secara daring.

“Kalau untuk praktikum, sepenuhnya dari seluruh mata kuliah yang ada praktikumnya itu dibuat daring,” ujarnya saat dihubungi oleh Mercusuar melalui sambungan Whatsapp (30/12/2020).

Untuk beberapa mata kuliah yang dirasa tidak membutuhkan praktikum maka tidak dilakukan meskipun online

“Untuk yang pakai asdos, praktikum hanya diberikan teori dan gambaran organ yang mengalami kerusakan, kemudian dijelaskan penyebab dan bentukan khasnya” lanjutnya.

Lebih lanjut, Rizqi menyebut asisten dosen memiliki strategi tersendiri untuk memastikan mahasiswa memperhatikan materi kuliah yang disampaikan melalui daring. Yakni, dosen memilih mahasiswa secara acak kemudian melempar pertanyaan yang berkaitan dengan materi.

Menurutnya, metode praktikum dengan mekanisme daring dirasa tidak efektif, hal itu lantaran tugas seorang dokter hewan adalah turun ke lapangan

 “Beberapa ada yang masih kurang efektif karena kita hanya membayangkan visualisasinya saja,” tutur Rizqi.

Kendati Surat Edaran Rektor Nomor 1691/UN3/PK/2020 yang mengacu pada Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) yang diterbitkan pada 18 Agustus 2020 lalu sudah ada, namun, Fakultas Kedokteran Hewan belum memutuskan model pembelajaran untuk semester genap 2021 lantaran surat edaran dari rektorat belum diturunkan.

“Sepertinya masih belum offline, mengingat pandemi masih  dalam kondisi mengkhawatirkan Dari mereka (dosen dan tendik) pun juga kelabakan untuk mempersiapkan APD, karena satu ruangan hanya bisa diisi sepertiga kuota maksimalnya,” jelas Rizqi

Disesuaikan dengan Keputusan Rektor

Tak hanya Fakultas Keperawatan dan Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) juga menjadi salah satu fakultas yang syarat akan kegiatan praktikum.

“Dari rektorat mengimbau untuk praktikum secara online, jadi kami juga melaksanakannya secara online,” ujar Muhammad Browijoyo Santanumurti S.Pi. M.Sc. saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (7/1/2021).

Metode yang digunakan oleh fakultas yang berdiri pada 2008 itu juga menggunakan platform Video conference Zoom untuk tatap muka danYouTube untuk mendemokan praktik terkait materi di setiap mata kuliah.

“Dalam videonya kami menunjukkan praktiknya gimana, misalnya tentang parasit ikan, kami menunjukkan bagaimana cara mengidentifikasi parasit pada ikan dengan berbagai metode, jadi mahasiswa bisa lihat seperti apa,” papar Browijoyo.

Serupa dengan Fakultas Kedokteran Hewan, Browijoyo mengungkap dirinya juga menggunakan fasilitas E-Learning dalam mengevaluasi pemahaman mahasiswa, meskipun pemahaman yang didapatkan tidak akan sama ketika praktikum dilakukan secara langsung.

“Terlebih mengenai parasit pada ikan butuh mikroskop, karena tidak  bisa dilihat secara langsung. Kalau praktikum mandiri kendalanya ada di alat,” jelasnya.

“Sebenarnya di minggu 11 dan 12 kita mau (praktikum) offline, waktu itu pas November masuk ke Desember tapi saat itu keputusan rektor bilang nggak boleh offline, ya sudah online saja,” sambungnya.

Kendati tidak memungkinkan untuk dilangsungkan secara luring bagi mahasiswa secara umum, namun FPK tetap memberikan ruang bagi mahasiswa tingkat akhir untuk melakukan penelitian dalam menyusun tugas akhir (skripsi).

 “Kalau untuk mahasiswa akhir yang penelitian, bisa datang ke kampus dengan menerapkan protokol kesehatan,” ujarnya.

 “Tapi kami juga memberikan alternatif untuk yang belum memulai penelitian tugas akhir dengan me-review penelitian yang sudah ada, jadi dibentuk seperti buku ulasan mendalam penelitian yang sudah ada,” lanjutnya

Mengenai teknis pelaksanaan praktikum semester genap 2021 mendatang, Browijoyo mengimbau mahasiswa tetap menunggu keputusan dari rektorat.

“Kalau dari FPK memaksakan mau mengadakan offline atau blended, kami takut adanya klaster baru, nanti malah menyebar  dan tidak kunjung selesai kasus covidnya, jika seperti ini malah tidak cepat blended maupun offline,” paparnya.

Browijoyo mengatakan apabila kondisi mulai membaik, mahasiswa diperkenankan ke kampus supaya lebih jelas dalam memahami materi praktikum, namun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan

Penulis: Tata Ferliana
Editor: Risma D.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *