Dirsarpras Baru Unair Tanggapi Perubahan Nama Syariah Tower

Dirsarpras Baru Unair Tanggapi Perubahan Nama Syariah Tower

Airlangga Tower  (Foto: Prisheila/Mercusuar)

Pamflet Syariah Tower yang dilabeli Airlangga Tower dengan tujuh program studi baru di tahun 2021 sempat ramai menjadi perbincangan di media sosial. Perubahan nama tersebut meninggalkan tanda tanya di benak mahasiswa.

Nugroho Sasikirono, SE., MM. selaku Direktur Sarana dan Prasarana (Dirsarpras) Unair 2021 pun memberikan tanggapannya. Nugroho mengatakan bahwa perubahan tersebut sebenarnya hanya perubahan penyebutan saja, dari Syariah Tower menjadi Airlangga Tower. 

“Saya nggak tahu kalau ke depan ada perubahan nama, tapi ya tadi, pokoknya sampai saat ini nama yang sering kami gunakan adalah Airlangga Tower,” tuturnya saat dihubungi via Whatsappa pada Senin (28/12).

“Nah, kapan perubahan itu terjadi, ya sejak Unair memutuskan melanjutkan pembangunan dengan menggunakan dana mandiri, dana yang berasal dari Unair sendiri,” imbuhya. 

Ia menambahkan bahwa Airlangga Tower nantinya akan digunakan untuk kegiatan perkuliahan S2 dan S3.

“Kenapa S2 dan S3? Karena kami mempertimbangkan ruang-ruang di gedung tersebut kurang sesuai untuk perkuliahan yang peserta atau jumlah mahasiswanya banyak atau besar. Kalau S1 kan jumlah mahasiswa per kelasnya relatif besar,” jelasnya.

Lebih lanjut, Airlangga Tower ini dilengkapi dengan ruang diskusi, ruang rapat kecil, ruang belajar bersama yang cukup luas, serta ruang ujian tertutup dan terbuka untuk program doktor. Adapula ruang untuk kegiatan bisnis seperti kantor bank dan bisnis lainnya yang melibatkan mahasiswa seperti toko buku.

Airlangga Tower juga dilengkapi dengan annex (ruangan tambahan) yang nantinya bisa digunakan untuk kegiatan olahraga, kegiatan kesenian, dan konferensi di auditoriumnya.

Pembangunan yang Sempat Tersendat

Terkait pembangunan yang sempat tersendat, Nugroho melemparkan guyonan jika dirinya harus bertanya pada para pendahulunya (di Sarpras) terlebih dahulu.

“Dulu awalnya gedung ini saat masih menggunakan nama Syariah Tower itu dibangun dengan dana APBN, sampai pada tahun tertentu dana APBN ini terhenti dan itu cukup lama hingga diputuskan oleh pak rektor, Pak Nasih, untuk melanjutkan pembangunan menggunakan anggaran mandiri Unair,” paparnya.

Dilansir dari laman Surya.co.id, memang benar bahwa pembangunan Airlangga Tower sempat terhenti lantaran tidak ada anggaran. Pada tahun 2016, APBN untuk pembangunan infrastruktur Perguruan Tinnggi Negeri (PTN) hanya 1,710 triliun sehingga kemungkinan Unair hanya mendapat 15 miliar. Hal tersebut berbanding terbalik dengan anggaran pada tahun 2015 yang mencapai 5 triliun untuk infrastruktur PTN dan Unair mendapat jatah 49 miliar. 

Hal itu membuat pembangunan Airlangga Tower sempat mangkrak dan kembali dilanjutkan di tahun 2019. Dengan dana mandiri, gedung tersebut diperkirakan akan rampung seratus persen pada tahun 2021.


Penulis : Amelia Rahima
Editor : Lailatul Fitriani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *