Ludruk Cak Durasim Sebagai Aset Budaya Kota Surabaya

Ludruk Cak Durasim Sebagai Aset Budaya Kota Surabaya

(Sumber gambar: antarafoto.com)

Surabaya merupakan kota yang terkenal dengan beragam kesenian dan kebudayaan. Kerap disebut sebagai kota pahlawan, banyak pula seniman-seniman hebat, salah satunya adalah Cak Gondo Durasim atau yang lebih terkenal dengan nama Cak Durasim.

Seniman kelahiran Jombang ini merupakan pahlawan kesenian Ludruk. Beliaulah yang memprakarsai berdirinya kelompok kesenian Ludruk di Surabaya sekitar tahun 1930-an. Kesenian Ludruk yang dibawakan oleh Cak Durasim sangatlah berbeda dengan kesenian Ludruk yang dibawakan oleh seniman lain, banyak nilai-nilai kehidupan yang diadopsi dalam Ludruk Cak Durasim. Itulah keunikannya.

Selain itu, Cak Durasim juga menyisipkan kritik sosial terhadap pemerintah kolonial Jepang pada kesenian ludruknya. Hal ini dilandasi karena tindakan pemerintahan Jepang yang sewenang-wenang terhadap masyarakat pribumi.

Ludruk bukan satu-satunya kesenian yang tumbuh pesat Surabaya, banyak juga kesenian lain, yakni Gending Jula-Juli Suroboyo, Tari Remo, Kentrung, Okol, Besutan, Tari Hadrah Jidor, Seni Ujung, dan Tari Lenggang Suroboyo. Dari banyaknya jenis kesenian yang ada di Surabaya, Ludruk lah yang paling banyak diminati oleh warga Surabaya. Daya tarik Ludruk yaitu menggunakan Dialek Arekan atau Bahasa Arekan. Dialek Arekan ini merupakan bahasa Jawa asli kota Surabaya yang banyak digunakan untuk berkomunikasi antar masyarakat Surabaya.

Namun sejatinya, Ludruk bukanlah budaya asli dari kota Surabaya, kesenian ini sebenarnya berasal dari Jombang. Cak Durasim membawa kesenian ini ke Surabaya sehingga kesenian ini besar di Surabaya. Kesenian di Surabaya pun tumbuh dengan baik sehingga membuat seniman dari luar Surabaya pun berbondong-bondong pergi ke kota Surabaya untuk belajar sekaligus mengembangkan kemampuan mereka di bidang seni. Di Surabaya sendiri, banyak lembaga yang mewadahi para seniman untuk mengembangkan kreativitasnya dalam seni, salah satu lembaga itu bernama Dewan Kesenian Surabaya (DKS).

Dewan Kesenian Surabaya memiliki basecamp yang terletak di Gedung Balai Pemuda Surabaya. Beragam jenis kesenian sering ditampilkan di Gedung Balai Pemuda, mulai dari pameran seni lukis sampai seni teater. Namun untuk pagelaran seni tari tradisional sering digelar di Taman Hiburan Rakyat (THR) dan Taman Budaya Surabaya.

Sementara itu, pagelaran Ludruk berada ditempat khusus bernama Gedung Cak Durasim yang bertempat di Balai Pemuda Surabaya. Gedung Cak Durasim ini dibangun sejak tahun 1976 oleh pemerintah Kota Surabaya. Tujuan dari pembangunan gedung ini adalah untuk menghormati dan mengenang jasa Cak Durasim yang merupakan seniman Ludruk sejati Surabaya tempo dulu.

Dewasa ini, kesenian Ludruk menjadi sangat diminati, ditandai dengan munculnya banyak komunitas kesenian yang mengkombinasikan kesenian tradisional dengan instrumen modern, salah satunya yakni Komunitas Ludruk Luntas atau yang dikenal sebagai Ludrukan Nom-noman Tjap Arek Soerobojo. Komunitas ini berdiri secara independen dan seringkali menggelar pementasan Ludruk tanpa bantuan anggaran dari pemerintah. Selain itu, Ludruk dapat pula disaksikan ketika acara pernikahan, khitanan, dan acara keagamaan lain yang bertujuan untuk menarik minat tamu undangan agar menikmati suasana.

Suatu hal yang dapat kita sadari bahwasanya kesenian bukan hanya hiburan semata, namun dapat dijadikan sebagai sarana untuk menyatukan masyarakat. Melalui Ludruk, masyarakat bisa memaknai pesan tersirat dalam pementasan. Eksistensi dari kesenian tradisional yang ada pun perlu kita lestarikan dan jaga sebaik mungkin.


Referensi:
Kotatera. 2017. Ludruk, Riwayatmu Kini dan Nanti. url: https://www.terakota.id/ludruk-riwayatmu-kini-dan-nanti/, diakses pada 25 September 2020.

H.S. Sunaryo. 2011. Ludruk : Pengertian dan Sejarah Perkembangan. url: https://jawatimuran.wordpress.com/2011/11/17/ludruk-pengertian-dan-sejarah-perkembangan/, diakses pada tanggal 25 September 2020.

Fadhila, Tasha Shafa. 2020. Melestarikan Ludruk di Era Serba Digital. url: https://surabaya.liputan6.com/read/4166794/melestarikan-ludruk-di-era-serba-digital, diakses pada tanggal 25 September 2020.


Penulis: Primanda Andi Akbar
Editor: Annisa Fitriani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *