Salesman Dilarang Masuk

Salesman Dilarang Masuk

Sumber: David Cristobal

Di belakang pos ronda yang dulunya sering bocor itu terdapat tembok rumah Haji Sodik setinggi dua meter. Atas izin beliau pulalah, tembok itu disulap oleh Udin dengan mural. Ada gambar Soekarno dengan kopyah kebesarannya, Pattimura lengkap dengan pedang seolah siap menghunus dan Bung Tomo nampak berpidato.

Semua ini Udin kerjakan dengan bantuan warga sekitar. Ada yang membantu tenaga secara sukarela, terkadang juga membantu memberikan sarapan atau makan siang. Pak RT begitu mengapresiasi hasil jerih payah warganya yang sukarela menyulap pos ronda yang dulunya reot tersebut. Bagaimana tidak, pos ronda yang hanya seluas 2 x 2 meter tersebut atapnya sudah banyak berlubang, kayu-kayu jati yang dulunya kokoh sudah jadi santapan rayap.

“Pos ronda ini sepertinya peninggalan zaman Belanda,” celoteh seorang warga yang seolah mengejek pos ronda tua itu.

Tapi dulu ya dulu, sekarang ya sekarang, begitu pikir Pak RT. Pos ronda itu kini sudah disulap menjadi tempat berkumpul yang ramah bukan hanya untuk bapak-bapak ronda, tetapi juga ibu-ibu yang setiap pagi menunggu penjual sayur lewat sambil ngerumpi ini-itu. Anak-anak pun tak luput juga sering berkumpul di pos ronda karena memang warga menyediakan Wi-Fi gratis dan sebuah televisi 14 inci berwarna cokelat tua sumbangan dari Haji Sodik.

“Biar anak-anak senang dan digunakan untuk mengerjakan tugas sekolah.” Begitu jawab Pak RT ketika ada beberapa warganya protes atas pemasangan Wi-Fi tersebut.

Suasana di pos ronda memang sepertinya tampak meriah tapi tidak bertahan lama. Poster-poster memenuhi tiang listrik yang berdiri tepat di pertigaan jalan tersebut. Mural tokoh-tokoh pahlawan hasil karya Udin pun kini harus ditutupi dengan poster sebesar spanduk bupati mereka yang kembali berkontestasi di pilkada. Bukan, poster-poster itu bukan mengenai waspada Corona tapi bertuliskan “Salesman dilarang masuk!!!”

Ya, semenjak tulisan itu dibentangkan oleh warga sekitar, tidak ada satu pun salesman yang berani menginjakkan kakinya kesana. Sekali lagi ini bukan karena pandemi atau Corona karena warga sekitar sudah acuh tak acuh akan hal tersebut. Pernah di suatu malam, Wito menyebut bahwa Corona itu konspirasi.

“Semua ini akal-akalan dari orang-orang saja, mana mungkin biaya buat tesnya aja bervariasi,” gumamnya.

“Tapi bagaimana pun kita harus waspada. Ingat pepatah Jawa eling lan waspada.” Seseorang menimpali pendapat Wito.

Adu argumen pun begitu panjang dan tidak ada habisnya di pos ronda itu. Memang mereka suka debat kusir. Bukan hanya menyoal Corona, memilih masjid buat menyembelih hewan qurban saja saling diperdebatkan.

Memang pernah Pak RT mengimbau warganya untuk memasang keran air dan menaruh hand sanitizer di depan rumah warganya, terutama di tempat-tempat berkumpul dan salah satunya pos ronda. Tetapi adaptasi semacam itu hanya berlaku beberapa bulan saja, karena banyak masyarakat yang tidak percaya, malas, kurang diberikan informasi dan masih ada seribu alasan yang ada.

Warga sudah kebal terhadap corona tapi tidak dengan salesman. Begitu sebuah slogan yang diucapkan oleh Wito pada sebuah malam yang gerimis ketika sedang berada di pos ronda untuk berjaga.

Hal itu tidak dapat dipungkiri sejak kedatangan Pungki, salesman perabot rumah tangga. Aneka barang rumah tangga ditawarkan oleh Pungki mulai dari sapu, kursi, meja, tempat tidur dan masih banyak lagi. Pemuda yang dua tahun lalu lulus kuliah ini memang mempunyai pesona, dengan rambut klimisnya dipadukan dengan setelan baju dan celana warna hitam putih yang memberikan kesan maskulin.

Pungki juga berbadan agak kekar, matanya seperti kelopak bunga yang mekar begitu tajam ketika memandang tapi juga begitu meyakinkan terutama buat ibu-ibu, ditambah lagi Pungki punya brewok yang tidak terlalu lebat sebenarnya tapi kentara tumbuh di wajah. Tapi hal terpenting yang membuat ibu-ibu kesengsem adalah suaranya yang serak-serak basah.

Sepanjang sore ibu-ibu memang menantikan kedatang pria satu ini. Ada yang memang mau membeli atau sekedar bertanya barang jualannya tapi notabene ibu-ibu memang ingin menggoda.

Lalu paginya ibu-ibu yang mau belanja sayur akan mengobrolkan seputar Pungki, Pungki dan Pungki.

“Betul kan, Bu, dia masih jomblo ternyata,” kata Bu Hartini.

“Iya Bu, aku baru tau kalau dia masih jomblo,” sambung Bu Hayati.

“Suaranya yang waktu jualan serak-serak basah gimana gitu Bu, kok bikin saya gemeter gimana, ya,” imbuh Bu Hartini.

Sementara ibu-ibu yang lain hanya manggut-manggut sambil memilih sayuran yang akan nanti mereka masak.

“Tapi aneh nggak sih, Bu, kalau Mas Pungki yang gantengnya kebangetan itu kok sekarang masih jomblo?” tanya ibu yang lain.

Percakapan pun berubah menjadi hening dan ibu-ibu itu bergegas untuk pulang dan memasak sayuran yang telah mereka beli karena sekarang sudah hampir siang dan anak-anak mereka masih belum sarapan.

Pungki bukan hanya tenar dan jadi bahan pembicaraan di kalangan ibu-ibu, tapi juga di kalangan bapak-bapak yang meronda. Bapak-bapak itu nampaknya resah atas kehadiran Pungki di antara istri-istri mereka. Agaknya kehadiran Pungki telah menciptakan sebuah dunia yang ada di kepala mereka yang menggangu kebahagiaan rumah tangga mereka.

“Kok bisa?” tanya Pak RT ketika bapak-bapak itu memutuskan untuk mengadukan ini pada Pak RT.

“Ya, bisa. Dia begitu maskulin untuk ukuran pria, ditambah suaranya yang serak-serak basah seksi sekali. Munculin fantasi di kepala istri kita,” jawab Wito.

“Istri kita sampai berpikir hal erotis, Pak, soal itu.”

“Terus sekarang kita mau di sini Pak RT memberikan teguran pada salesman itu. Jangan terlalu seringlah datang kesini,” sambung yang lain.

Pada suatu sore Pak RT menemui Pungki ketika dia sedang duduk rehat di depan pos ronda.

“Sebaiknya kamu jangan terlalu sering datang kesini, seminggu sekali atau gimana?”

“Lho kenapa, Pak?”

“Bapak-bapak di sini kurang berkenan kamu terlalu sering jualan di sini.”

Pemuda itu hanya diam mendengarkan penjelasan dari Pak RT, seolah apa yang ia tanyakan masih belum mendapatkan jawaban.

“Begini, Ibu-ibu di sini suka berfantasi erotis ketika dia melihat kamu, terutama dengar suara kamu yang serak-serak basah itu.”

“Jadi selama ini ibu-ibu itu membayangkan bagaimana seandainya saya bergumul dengan mereka di ranjang, begitu?”

Pak RT tersipu malu, wajahnya merah padam. Suasana pun berubah menjadi hening sesaat dan pemuda itu masih saja menatap tajam Pak RT.

“Baiklah Pak RT, saya akan datang kemari seminggu sekali,” ujarnya dengan suara serak-serak basah itu.

“Terimakasih banyak ya, Ki, mohon dimaklumi saya hanya tidak ingin masyarakat di sini resah.”

Pungki pun datang hanya seminggu sekali di hari kamis. Ibu-ibu yang menantikannya saban hari pun bertanya-tanya, kenapa pemuda itu sekarang hanya datang di hari kamis. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu yang muncul dalam benak ibu-ibu tidak pernah terjawab bahkan oleh Pungki yang menghindari segala pertanyaan itu.

Lalu pada suatu malam bapak-bapak pun kembali dibikin resah kembali karena ulah Pungki yang datang seminggu sekali itu. Istri-istri mereka kini lebih sering datang ke pos ronda untuk sekedar berkumpul sepanjang hari sambil saling tukar berita mengenai Pungki. Mereka juga malas masak dan mengerjakan pekerjaan rumah karena lebih memilih untuk duduk di pos ronda.

“Pungki itu benar-benar bikin aku dan ibu-ibu di sini jatuh hati, suaranya yang serak-serak basah itu maha karya seni yang indah. Ahhhhh Pungki,” gumam istri Udin ketika sedang terbaring di sebelahnya pada suatu malam.

Ini yang membuat geram bukan hanya Udin, tetapi bapak-bapak lainnya juga. Istri-istri mereka sudah tidak mau diajak untuk aktivitas ranjang dan lebih sering bergumam dan mengigau soal Pungki. Maka telah diputuskan dalam suatu malam ketika ronda untuk memberikan pelajaran pada Pungki.

Lalu pada suatu sore di hari kamis yang gerimis, Pungki yang tengah berteduh sendiri di pos ronda di datangi oleh bapak-bapak. Ada yang sudah siap membawa tali, pisau, parang dan balok kayu. Semenjak saat itu pula ibu-ibu tidak pernah menjumpai Pungki.

*****

Semenjak saat itu di setiap hari kamis Pungki tidak pernah muncul kembali di perumahan itu. Ibu-ibu yang setiap seminggu sekali sudah dibuat resah kini malah semakin menjadi-jadi karena Pungki menghilang tanpa jejak.

“Sudah beberapa hari ini istriku mengigau tentang Pungki,” celetuk Wito saat sedang berjaga di pos ronda.

“Walaupun ia sudah kita hilangkan tetap saja berulah dan membuat istri kita malah begini,” sambung bapak yang lain.

Ibu-ibu yang sepanjang hari hanya duduk di pos ronda menunggu kabar tentang Pungki akhirnya mendapatkan kabar tersebut dari siaran televisi 14 inci berwarna cokelat tua. Berita tersebut menyiarkan bahwa telah  ditemukan jasad seorang lelaki tanpa identitas hanyut di sungai. Tapi ibu-ibu yang begitu hafal akan segala lekuk tubuh dari Pungki itu pun langsung berkesimpulan bahwa itu Pungki. Memang Pungki.

Seluruh komplek perumahan pun begitu ramai dengan teriakan, jeritan dan tangisan dari ibu-ibu. Bapak-bapak yang merasa sudah jadi korban dari maskulinitas Pungki akhirnya menghadap ke Pak RT dan meminta untuk membuat peraturan yang melarang salesman datang kesini.

Pak RT yang didesak oleh bapak-bapak dan memang merasa dirugikan juga mulai saat itu memutuskan untuk membuat sebuah peraturan tertulis “Salesman dilarang masuk.” Semenjak saat itulah kondisi perumahan dan pos ronda yang baru itu tetaplah hening meski baru saja direnovasi.

Penulis: Fajar Satriyo
Editor: Baitiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *