KPUM FST Rencanakan Pemilihan Ulang sebagai Solusi Golput dan Suara Imbang

KPUM FST Rencanakan Pemilihan Ulang sebagai Solusi Golput dan Suara Imbang

Gedung Fakultas Sains dan Teknologi (Sumber: blognya anak muda)

Pemilihan Umum Raya (Pemira) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) direncanakan berlangsung mulai Desember 2020. Seluruh rangkaian agenda dan sosialisasi Pemira diunggah melalui akun instagram resmi Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) FST mulai November.

Reza mengatakan, apabila hasil akhir diperoleh suara sama atau berimbang dari kedua paslon, maka akan dilakukan pemilihan ulang. Pemilihan ulang terfokus pada kelompok pemilih yang masih golput.

“Jika terjadi kesamaan suara nanti kemungkinan akan diadakan pemilihan ulang dan lebih ditegaskan untuk kelompok-kelompok yang masih golput, difokuskan itu lebih utamanya” tegas Reza Destiani, Ketua Panitia KPUM FST 2020.

Berkaitan dengan solusi adanya kesamaan suara, panitia merujuk pada petunjuk teknis dan pelaksanaan Pemira.

“Solusinya ada di petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan pemira itu sendiri. Tetapi itu masih berupa rancangan dan draft, belum disepakati oleh seluruh anggota KPUMF dan belum disahkan oleh Panwaslu,” tuturnya pada Minggu (15/11) melalui WhatsApp.

“Tapi itu belum disahkan, ini masih rancangan sehingga belum ada keputusan goals,” imbuhnya.

Sama halnya dengan fakultas lain, Pemira FST akan dilangsungkan dengan sistem online. Melalui E-Voting, Pemira akan menghimpun suara mahasiswa untuk memilih DLM, Ketua-Wakil Ketua BEM, dan beberapa Ketua himpunan mahasiswa dari program studi di FST.

“Untuk pendaftarannya sendiri nanti kan sebenarnya ada sesi coming soonnya dulu untuk persiapan, setelah itu ada pembukaan pendaftaran,” ujarnya.

Dalam Pemira kali ini, panitia memberikan kesempatan bagi masing-masing himpunan untuk memilih mekanisme pemilihan. Reza mengatakan ada beberapa himpunan program studi yang masih menggunakan mekanisme musyawarah.

“Ada himpunan yang pelaksanaannya tidak dengan E-Voting, beberapa diantaranya masih menggunakan sistem musyawarah dan memutuskan untuk tidak bergabung dengan sistem E-Voting di pemira Fakultas,” tutup Reza.

Dari sebanyak 8 program studi, Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) dan Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi (HIMSI) memilih tidak mengikuti proses Pemira, melainkan dengan musyawarah himpunan.

Penulis: Noviatus S.
Editor: Risma D.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *