Menjelang Akhir Semester, Mahasiswa Baru Belum Terima Jas Almamater

Menjelang Akhir Semester, Mahasiswa Baru Belum Terima Jas Almamater

(Gambar: infopublik.id)

Hingga menjelang akhir semester ganjil, mahasiwa baru Universitas Airlangga (Unair) angkatan 2020 yang berdomisili di luar Surabaya tak kunjung menerima jas almamater. Mahasiswa pun mengeluhkan kebijakan mengambil yang hanya diberikan kepada mahasiswa yang tinggal di Surabaya dan mahasiswa jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) saja.

Seperti yang diungkapkan salah seorang mahasiswa Jurusan Teknik Lingkungan 2020 yang masuk melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), Muhammad Bagas.

“Untuk yang jalur SBMPTN sampai mandiri kemitraan belum mendapat jas almamater semua. Harusnya, sih, diberi kejelasan lagi, mengingat perkuliahan sudah berlangsung hampir satu semester,” keluhnya.

Menurut Bagas, kampus seharusnya memiliki alternatif lain jika tidak ingin mahasiswanya datang ke lokasi pengambilan (Universitas Airlangga) langsung.

“Pihak Unair harusnya memberi tawaran bagi mahasiswa baru yang berkenan untuk dikirimin almamater via ekspedisi,” tuturnya melalui pesan Line pada Rabu (11/11).

Tidak jauh berbeda, Mevi, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi 2020 juga mengungkap kekecewaannya lantaran berdomisili di Jember, ia tidak berkesempatan untuk mengambil jas almamater.

“Waktu itu kan Unair memberi surat edaran berisi nama mahasiswa yang bisa mengambil almamater sekaligus jadwal pengambilannya,” kata Mevi pada Jumat (13/11).

“Di grup sempat rame, semua pada bingung namanya nggak ada di daftar. Setelah tanya ke anak-anak yang namanya ada ternyata mereka punya kesamaan, sama-sama dari Surabaya,” sambungnya.

Tidak hanya Kampus Unair pusat di Surabaya, pembagian jas almamater di Kampus Unair PSDKU Banyuwangi juga sempat ditunda. Padahal, kampus telah menerbitkan informasi terkait pengambilan pada awal Oktober, namun hingga kini, belum ada pemberitahuan lebih lanjut kembali.

Menanggapi beberapa keluhan mahasiswa, LPM Mercusuar mencoba menanyakannya melalui contact person (CP) yang tertera di website resmi Pusat Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) Unair.

“Kondisi sekarang berbeda dengan kondisi sebelumnya. Pembagian almamater itu biasanya sangat rame, itu kita coba hindari karena kondisi pandemi saat ini. Misalkan itu kita lakukan, siapa yang bertanggung jawab apabila ada yang terkena Covid-19 setelah acara pembagian?” papar Resa saat dihubungi pada Jumat (13/11).

Ditanya perihal alternatif lain dengan mengirimkan jas almamater melalui jalur ekspedisi, ia mengatakan semua telah tercantum dalam jadwal yang telah dibagikan di surat edaran, yakni saat kuliah tatap muka.

“Bukan kita tidak memberikan, almamater sudah ready dan mahasiswa itu memaksa padahal sudah kita jadwalkan waktu pembagiannya. Kalau kondisinya membaik akan kita bagikan segera kok,” pungkasnya.

Kendati pandemi menjadi alasan dibalik molornya pembagian jas alamamater, mahasiswa berpendapat bahwa saat ini masih banyak media pengiriman yang bisa dijangkau dengan sistem online. Terlebih dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang tinggi seharusnya kampus bisa memproses pengiriman jas almamater melalui ekspedisi.

“Kalau menurut saya, UKT Unair kan kalau dibandingkan dengan universitas lainnya, udah tergolong mahal ya. Masa ngirim almamater lewat pos aja ngga bisa?” protes Mevi melalui pesan WhatsApp.

“Pakai pengiriman yang standar aja, nggak bakal habis banyak kan?” imbuhnya.

Bukan persoalan dipakai atau tidak, lanjutnya, namun sewajarnya apabila mahasiswa yang lolos dan menjadi bagian dari kampus memiliki atribut kampusnya.

“Dengan UKT yang kami bayar, seharusnya kami dapat yang setimpal juga. Apalagi kami juga belum merasakan fasilitas kampus sama sekali,” tukas Mevia mengakhiri.


Penulis: Risma D.
Editor: L. Fitriani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *