Perempuan-Perempuan Menuli dan Orang-orang Buta

Perempuan-Perempuan Menuli dan Orang-orang Buta

(Gambar: Instagram/@sunfloowart)

Psst … Mau kuceritakan kisah paling kontroversial sepanjang sejarah? Tapi pertama-tama kau harus berjanji bahwa kau tak akan mengatakan ini pada siapapun. Dan tolong, lindungi identitasku. Jangan pernah sebut namaku atau mengaitkan diriku dengan kisah ini. Kau nanti pasti akan mengerti kenapa.

Kau tahu kisah yang menemanimu tumbuh menjadi anak baik sampai hari ini? Kisah tentang seorang puteri jelita yang tak pernah melawan perintah ibu dan kakak tirinya, yang suatu hari pergi mencuci baju dan ketika mengejar sepotong kain yang terbawa arus, bertemu nenek miskin di gubuk tua? Ingat?

Ya, betul! Kisah seorang puteri jelita yang terkenal sangat rajin, baik hati, dan suka bersih-bersih. Namanya Bawang Putih. Yang setiap pagi selepas kepergian ayahnya, ia mencuci dan menjemur pakaian ibu dan kakak tirinya. Ia juga membersihkan rumah. Sungguh anak baik. Aku tak akan menyangkal.

Kemudian kau ingat ibu dan kakak tirinya? Jika yang kau pikirkan adalah dua sosok yang kejam, serakah, dan tidak punya hati terhadap kebaikan Putih, ada baiknya kau duduk dulu mendengarku berkisah. Karena kau mungkin mendengar melalui orang lain. Kau paham sendiri, bukan, bagaimana orang-orang suka berasumsi mengenai hal-hal yang jauh di luar kuasa mereka. Mereka membiarkan pikiran mereka mengambilalih kenyataan yang tidak mereka pahami, lalu membentuknya beraneka rupa sesuai karangan imajinasi mereka. Hal seperti ini memang sangat biasa terjadi. Tapi sungguh, sampai kapanpun seharusnya tak pernah dianggap normal-normal saja. Dampak pikiran mereka mungkin akan lebih jauh dari kenyataan yang tak mereka pahami itu. Dan juga jauh, jauh lebih mengerikan.

Putih berusia 19 tahun ketika kisah mereka menyebar di kalangan masyarakat dan dijadikan teladan di mana-mana. Putih yang rajin, baik hati, dan suka bersih-bersih. Setiap pagi memang ia membersihkan rumah, mencuci baju ibu dan kakak tirinya pula. Putih adalah malaikat yang diutus ke bumi untuk keluarga yang nyaris lupa rasanya hangat rumah dan kasih.

Sedangkan Merah, saat itu berusia 23 tahun. Mungkin tak selemah lembut ataupun seresik Putih. Tapi bukan berarti ia tak rajin. Apabila Putih adalah malaikat yang diutus menyebarkan kasih, maka Merah adalah malaikat pelindung yang penuh cinta. Merah adalah pekerja keras. Sebagai anak yang lahir dalam kehidupan ekomoni yang tak terlalu baik, di usianya yang dini Merah terbiasa bekerja dengan ibunya. Ia menghasilkan uang untuk kebutuhan hidup dan tumbuh menjadi puteri cantik dengan ambisi besar. Hingga ketika ayah Putih meninggal dan mewariskan hutang besar, Merah masih penjadi tulang punggung keluarga. Berkat bantuan ayah tirinya, Merah sempat melamar di sebuah perusahaan dagang besar di kota dan diterima.

Ibu mereka sudah cukup renta. Tenaganya tidak dapat dijamin lagi untuk bekerja sebagai buruh cuci. Tetapi ia mengakali dengan berjualan gorengan di rumah. Sesekali, Putih membantu. Tetapi Putih harus menghadiri sekolah, tentu saja. Ibu tak mau jika Putih melalaikan kewajibannya sebagai siswa hanya untuk membantunya. Oleh karena itu, terkadang ibu memanggilku ke rumahnya untuk membantu sedikit.

Lagi, cerita-cerita yang dilempar dari mulut ke mulut adalah sumber paling tidak boleh dipercaya. Sampai hari ini pada detik aku menuliskan kata ini pun, aku masih tak habis pikir dengan versi kisah mereka yang beredar luas di tengah publik. Keluarga Bawang adalah keluarga paling harmonis yang pernah kujumpai terlepas dari status mereka tak terlahir dengan ikatan darah. Sampai aku sendiri tidak yakin apakah keluarga kandung di luar sana dapat memiliki hubungan sebaik ini.

Merah berangkat kerja pukul 6 pagi untuk mengejar angkutan umum menuju kota. Ia berangkat usai membuatkan sarapan untuk Ibu yang mulai mengolah gorengan dan Putih yang mencuci baju. Tak ada yang tahu bahwa Merah bekerja, bukan? Mungkin karena di kampung kami, jarak rumah sejauh petak-petak sawah. Tetapi aku berani bertaruh mengenai orang-orang yang sebetulnya menjumpai Merah di jalanan. Merah bukan tipikal orang yang suka menyapa orang yang tak ia kenal. Ia sebetulnya kucing pemalu yang berlindung di balik wajah singa marahnya—bila merujuk pada gambaran orang-orang. Merah adalah orang yang paling suka mengurusi urusannya sendiri dibanding “harus menghadapi kesia-siaan dari orang yang tak memberinya makan”, katanya suatu kali.

Berbeda dengan Putih yang tak harus mengejar angkutan umum, ia mencuci di sungai sembari mandi dan kembali dengan tangan menenteng jemuran. Di sungai setiap pagi cukup ramai orang lewat. Mereka selalu saling sapa dengan Putih, terhitung bahwa Putih merupakan warga kampung sejak lahir, tentu orang-orang mengenalnya. Di rumah ia menjemur pakaian dan sarapan, lalu berangkat sekolah. Tersisa ibu mereka yang sendirian menggoreng bakwan.

Peristiwa ketika Putih tak pulang berhari-hari dan tiba-tiba kembali dengan labu besar di tangan, merupakan peristiwa yang terjadi ketika beberapa perempuan paruh baya berkunjung ke rumah mereka usai arisan untuk membeli bakwan. Aku sedang menjadi karyawan abal-abal Ibu waktu itu—begitu aku dan Ibu menyebut posisiku.

Ibu memarahi Putih yang baru pulang setelah berhari-hari, begitupun Merah. Putih sampai menangis. Yang baru kuketahui adalah mereka telah berdiskusi mengenai larangan tidur di luar rumah beberapa waktu usai kepergian ayah mereka. Dan Putih melanggarnya. Tiba-tiba tanpa sengaja Merah menyenggol labu Putih dan pecah, mengeluarkan perhiasan-perhiasan yang entah bagaimana dimasukkan ke dalam sana. Semuanya terkejut, termasuk aku dan perempuan-perempuan di depanku yang memutuskan memperlambat gerakannya hanya untuk sekadar menguping.

Putih menjelaskan alur bagaimana ia mengejar baju Ibu yang terbawa arus, bertemu perempuan tua di gubuk kecil, berhari-hari membantu perempuan itu, dan dibawakan labu kecil ini ketika hendak pulang.

“Mengapa tidak mengambil yang besar saja kalau begitu?” tanya Ibu.

Merah mengangguk. “Kita bisa melunasi hutang yang makin mencekik dengan itu, Putih. Meski jumlah ini sudah cukup menutupi hutang di Juragan Darno. Tapi masih kurang jika untuk melunasi seratus persen di tempat lain.”

“Begitukah?”

“Ya. Tapi jangan khawatir. Biar aku yang ke sana. Kau jelaskan saja caranya mendapatkan labu ini padaku.”

Putih menjelaskan rinci dan Merah, pada hari libur kerjanya, melakukan sebagaimana yang dijabarkan Putih. Meski akhirnya, labu yang diterima Merah merupakan labu busuk penuh ulat alih-alih berisi perhiasan. Berdasarkan ceritanya, mungkin karena ia tak dapat bersih-bersih sebaik Putih, meski Merah telah mengusahakan sebisanya.

Usai kejadian itu, desas-desus mengenai keluarga mereka mulai santer dibicarakan warga. Bahkan, suatu hari, ketika aku tengah berkunjung ke rumah mereka, rupanya mereka tengah berdiskusi cukup serius. Bisa kubilang, paling serius dari yang pernah kusaksikan dari mereka.

“Mengapa orang-orang jahat sekali menggambarkan keluarga kita seperti itu?” tanya Putih sedih.

Merah, tersenyum kecut. “Apa yang kau harapkan dari orang-orang itu, Putih? Mereka baik padamu karena kau anak mantan orang kaya di kampung ini. Sedangkan Ibu adalah janda anak satu yang menikahi ayahmu di masa jayanya. Apa yang bisa kita harapkan dari orang-orang itu, Putih? Menjadi janda berarti kutukan. Anak janda adalah anak pembawa sial. Semua yang kami lakukan salah di mata mereka. Tak ada ruang kebaikan bagi perempuan berduka yang ditinggal suami dan ayahnya, kecuali cibiran dan penilaian yang dihujamkan setiap waktu. Bahkan perempuan-perempuan yang menyebarkan rumor, mereka tak dapat mengerti duka sesama perempuan. Perempuan-perempuan itu yang terkadang menjadi biang kesengsaraan perempuan lain. Tapi kau jangan khawatir, Putih, Ibu dan aku bisa mengatasi ini. Kau fokus saja dengan sekolahmu dan tetaplah berbuat baik.”

Sejak saat itu, aku tak pernah mendengar keluarga ini membicarakan mengenai desas-desus dan cerita beragam versi yang beredar di masyarakat. Mereka menulikan telinga dari segala tuduhan. Meskipun dapat kupahami, mereka menanggung sengsara yang jauh lebih buruk dari duka siapapun di dunia ini. Mereka hidup dalam bayang-bayang neraka. Memiliki kisah yang dapat diteladani memang baik, tetapi bukan berarti tiada lara ketika sejarah mencatat Merah dan ibunya sebagai perempuan aib.

Suatu kali, aku pernah duduk di sebelah Putih usai pemakaman Ibu. Putih telah berusia 24 tahun dan dihitung dapat hidup sendiri, maka Merah memutuskan untuk pindah dari kampung yang memberinya luka ini. Putih telah diajaknya, namun perempuan itu tak ingin meninggalkan rumah penuh kenangannya bersama Ayah, Bunda, Ibu, serta Merah. Putih bertahan di kampung ini demi kenangannya.

Aku bergabung duduk dengan Putih di teras rumahnya sore itu sembari membawa sayur asam titipan ibuku untuknya. Putih dengan tatapan sayu menatap menerawang jauh ke depan.

“Putih, boleh aku bertanya?”

“Ya, kawan baik keluargaku? Apa itu?”

“Aku telah menyaksikan banyak peristiwa keluargamu dan aku dapat bersaksi bahwa kalian adalah keluarga terbaik yang pernah kujumpa. Sekiranya boleh kutahu, mengapa dulu rela kau berlari dan nyaris mengorbankan dirimu demi sepotong kain milik ibu tirimu?”

Putih menatapku tanpa kata sebentar dan tersenyum halus. “Dia ibuku. Dan barang tentu kulakukan itu. Itu baju milik Ibu. Aku tahu betapa Ibu menyukai baju itu. Dulu aku sering membuat Ibu kerepotan dengan tingkahku saat masih kanak-kanak. Mengejar baju kesukaan Ibu yang hanyut terbawa arus sungai saja masih tidak cukup untuk membayar jasa beliau.”

Aku mengangguk paham. Seperti sudah kuduga, keluarga ini adalah keluarga terbaik yang pernah kutemui. Jauh, sangat jauh dari anggapan orang-orang mengenai mereka.

Begitulah, Pembaca yang budiman. Itu adalah kisah Bawang Merah dan Bawang Putih berdasarkan apa yang kusaksikan secara langsung sebagai—sebagaimana yang Putih bilang—kawan baik keluarga mereka. Aku hidup lebih dekat dengan keseharian mereka, dibanding orang-orang penyebar kisah Bawang Merah dan Bawang Putih yang ceritanya lebih akrab di telingamu. Sekarang kau boleh memilih untuk percaya padaku atau tidak, itu terserah akal budi para pembaca sekalian. Aku tak dapat memaksa.

Dan aku berubah pikiran. Kau kini boleh merujuk kisah ini sebagai kisah Bawang Merah dan Bawang Putih yang ditutur oleh kawan baik keluarga mereka. Supaya para pembaca dapat memberi rujukan jika ingin menyebarkan kisah ini, bahwa ada saksi hidup yang bersumpah kalau Bawang Merah dan Bawang Putih adalah kakak-adik tiri yang saling menyayangi. Aku hidup dekat, dan Keluarga Bawang adalah keluarga harmonis yang harus berakhir tragis karena kebuta-tulian prasangka orang-orang.

Penulis: Tiyafauzi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *