Tanah Ibu Kami: Perempuan dalam Garda Depan Perlawanan

Tanah Ibu Kami: Perempuan dalam Garda Depan Perlawanan

Sumber: Instagram @thegeckoproject

Ibu bumi wis maringi
(Ibu bumi telah memberi)
Ibu bumi dilarani
(Ibu bumi disakiti)
Ibu bumi kang ngadili
(Ibu bumi yang akan mengadili)
 
Begitulah syair ibu bumi dilantunkan sebagai pembuka film Tanah Ibu Kami; sebuah film dokumenter yang meniti jejak perempuan pejuang lingkungan di tanah air. Dalam durasi 55.44 menit, Tanah Ibu Kami membuka kembali daftar panjang konflik agraria dan perusakan lingkungan yang terus terjadi di Indonesia.
 
Untuk mempertahankan tanah dan kelestarian lingkungan dari para pemodal, muncul berbagai gerakan perlawanan. Pada beberapa aksi, perempuan hadir sebagai pemimpin dan mengorganisir gerakan.
 
Kisah ini membawa Febriana Firdaus, jurnalis independen perempuan–yang juga penulis film ini–menempuh ribuan kilometer; menyusuri pelosok negeri; menuju perempuan-perempuan tangguh yang berhasil menembus tembok patriarki.
 
Febriana ingin membagikan suara mereka. Bagaimana perjuangan yang mereka hadapi dan kehidupan setelahnya. Bagaimana mereka harus menerima kekerasan, ancaman penahanan, hingga kematian. Bagaimana perlawanan itu kemudian menyisakan luka tak hanya fisik, tapi juga psikis.
 
Dari Sukinah dan delapan Kartini Kendeng di Jawa Tengah yang menyemen kaki sebagai bentuk perlawanan. Terbang ke Pegunungan Timor, NTT, ada Mama Lodia Oematan dan mama-mama lain yang dikomandoi Aleta Baun, menenun di atas batu untuk menghalau pertambangan.
 
Beranjak ke Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah, kita akan diajak melihat sosok pemberani Eva Bande yang mengorganisir petani melawan perkebunan sawit hingga berakhir di jeruji besi.
Dan langkah Febriana pun membawanya ke Banda Aceh sebagai tujuan akhir. Bertemu Farwiza, perempuan aceh yang tak henti memperjuangkan hutan di Taman Nasional Leuser dari perusakan.
 
Dalam film besutan sutradara Leo Plunkett itu cuplikan wawancara Presiden Jokowi menjadi penutup yang cukup menyesakkan sekaligus ironis.
 
Sedari awal, film produksi The Gecko Project dan Mogabay ini sukses menggugah dan menguras emosi. Ditambah audio visual dan ilustrasi yang menghipnotis. Apa yang ingin disampaikan mampu tersalur dan membekas melalui pengambilan gambar yang mengesankan. 
 
Film ini telah tayang perdana pada Senin (2/11) melalui kanal youtube The Gecko Project. Meskipun secara keseluruhan Tanah Ibu Kami megisahkan empat perempuan hebat, Febriana yakin di luar sana masih banyak Kartini Kendeng lain, Aleta Baun yang lain, Eva Bande yang lain, dan Farwiza Farwiza lain yang suaranya belum teramplifikasi.
 
Pada akhirnya, Tanah Ibu Kami bukan hanya tentang permasalahan agraria yang merusak ekologi dan menyengsarakan rakyat. Atau gerakan kelompok melawan korporasi yang mengeruk sumber daya mereka. Lebih dari itu, Tanah Ibu Kami juga tentang perempuan yang telah mematahkan stigma; bahwa mereka tak hanya mengurus ranah domestik, tapi juga mampu menjadi pemimpin tangguh.
 
“Perempuan mempunyai peran yang sangat besar untuk memajukan ekonomi, untuk melindungi lingkungan, bahkan kita menggambarkan bumi saja sebagai sosok perempuan, Ibu bumi.”
– Farwiza 
 
Penulis: L. Fitriani
Editor: Baitiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *