The Little Prince: Kedalaman Makna dalam Kesederhanaan Narasi

The Little Prince: Kedalaman Makna dalam Kesederhanaan Narasi

Sumber: Amazon UK

Judul : Le Petit Prince (Pangeran Cilik)
Penulis : Antoine de Saint-Exupéry
Halaman : 120
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 11, 2018
ISBN : 9786020323411

Le Petit Prince merupakan karya dari seorang penulis sekaligus jurnalis asal Prancis, Antoine de Saint-Exupéry. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam 230 bahasa berbeda, termasuk bahasa Indonesia. Dari judul dan ilustrasi sampulnya, Le Petit Prince mungkin terlihat seperti buku dongeng bagi anak-anak. Namun, sejak awal, penulisnya sendiri sudah mengatakan bahwa buku ini ia persembahkan bagi orang dewasa. Melalui Le Petit Prince, Antoine de Saint-Exupéry mengajak kita melihat dunia dengan kacamata lugu seperti anak-anak atau melalui tokoh pangeran kecil yang diceritakannya.

Buku ini diawali oleh kisah seorang anak yang menggambar ular sanca dengan perut besar karena sedang mencerna gajah. Anak itu menanyakan pada orang-orang dewasa di sekitarnya apakah gambarnya terlihat menakutkan. Sayangnya, orang dewasa yang ia temui selalu salah mengira gambarnya sebagai sebuah topi sehingga tidak terlihat menakutkan sama sekali. Orang-orang dewasa itu juga menyarankan agar sang anak mengesampingkan gambarnya dan lebih memperhatikan ilmu bumi, sejarah, ilmu hitung, serta tata bahasa. Semangat sang anak untuk menggambar lagi lantas patah. Si anak kecil menilai orang dewasa itu aneh, selalu butuh penjelasan, dan sangat tidak sejalan dengan pemikirannya. Melalui tokoh anak kecil ini, penulis mencoba menggambarkan betapa orang dewasa itu sulit untuk dipahami.

Pada bagian berikutnya, sang anak tumbuh dewasa dan menjadi seorang pilot. Akhirnya, ia memiliki pemikiran yang sama seperti yang dimiliki orang dewasa pada umumnya. Saat sedang terbang, tiba-tiba saja pesawatnya rusak dan jatuh di tengah Gurun Sahara. Mau tak mau, ia harus bermalam di gurun itu. Betapa terkejutnya ia ketika pagi-pagi sekali ada pangeran kecil yang membangunkannya dan meminta digambarkan seekor domba. Si pangeran kecil ini banyak mau, ia menolak gambar domba yang dibuat oleh sang pilot karena berbagai alasan. Akhirnya, sang pilot menggambarkan sebuah peti yang dilubangi dan mengatakan bahwa domba yang diinginkan pangeran kecil ada di dalamnya. Tak diduga, si pangeran kecil justru sumringah dan mengatakan bahwa gambar peti itu persis seperti apa yang ia inginkan.

Pada hari-hari berikutnya, sang pilot terus berusaha memperbaiki pesawatnya sementara pangeran kecil banyak bercerita. Si pangeran kecil ini berasal dari planet lain yang bukan bumi. Planetnya sangat kecil, sehingga ia bisa melihat matahari terbenam sebanyak 43 kali dalam sehari. Dengan keluguannya, pangeran kecil juga bercerita mengenai bunga mawar kesayangan miliknya dan planet-planet lain yang sempat ia kunjungi sebelum akhirnya sampai ke bumi. Orang-orang yang ditemui pangeran kecil di planet-planet yang ia datangi cukup merepresentasikan mayoritas orang dewasa masa kini : tergila-gila akan kekuasaan, senang dipuji, sering meluapkan depresinya dengan mabuk-mabukan, sibuk memperhitungkan apa yang ia punya dan apa yang ingin dia miliki, terpaku pada aturan, dan selalu sibuk dengan diktat tebal. Cerita pangeran kecil terdengar konyol, tapi sangat menghibur bagi si pilot. Melalui cerita pangeran kecil dan sindirannya pada orang dewasa itu, si pilot sadar bahwa ia tak seharusnya memandang dunia sebagai tempat yang penuh aturan dan angka-angka saja. Dengan kacamata lugu seperti anak-anak, dunia bisa dilihat sebagai tempat yang penuh keindahan, penuh cinta, dan penuh dengan hal-hal yang patut untuk disyukuri.

Cerita dalam buku Le Petit Prince ini sederhana namun sangat menohok. Meskipun tipis, buku ini sesungguhnya mengajarkan kita mengenai banyak hal. Sindiran penulis pada orang dewasa sangat realistis dan mungkin dapat kita rasakan pada diri kita sendiri. Penulis hendak menekankan bahwa menjadi dewasa itu bukan berarti menjadi terbiasa pula dengan segala hal. Kedewasaan bukan hanya dilihat dari kemampuan kita memahami ilmu-ilmu pasti. Kedewasaan yang sesungguhnya justru bisa kita dapatkan jika kita melihat dunia dengan polos dan apa adanya. Ilustrasi yang disajikan juga mampu meningkatkan imajinasi kita sebagai seorang pembaca. Sayangnya, beberapa dialog dalam buku ini perlu dibaca berulang-ulang agar kita dapat mengerti pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Jika dibaca sekali saja, dialog yang ada mungkin terlihat biasa. Namun, jika kita menghayatinya, ada pelajaran mendalam yang bisa dipetik dari sana. Seperti nasihat yang didapatkan pangeran cilik dari seekor rubah, “Inilah rahasiaku. Sangat sederhana : hanya lewat hati kita melihat dengan baik. Yang terpenting tidak tampak di mata.”

Penulis : Siti Nur Rahmawati
Editor : Baitiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *