Mengintip Kale, Melihat Karya Cerdas di Tengah Pandemi

Mengintip Kale, Melihat Karya Cerdas di Tengah Pandemi

Sumber: Youtube

Judul film : Story of Kale: When Someone’s in Love
Sutradara : Angga Dwimas Sasongko
Durasi : 77 menit
Pemain : Dinda (Aurelie Moeramas), Kale (Ardhito Pramono), Argo (Arya Saloka).

Seperti banyak cabang penggerak ekonomi lainnya, setelah kurang lebih tujuh bulan dalam masa pandemi, industri film turut menarik nafas berat. Produksi yang tengah berjalan terpaksa berhenti, beberapa film besar yang seharusnya rilis pun gagal tayang di bioskop. Di tengah situasi tidak ideal ini, kejeniusan dan kreativitas para sineas diuji. Beberapa film pendek dibuat dari rumah masing-masing, atau dikerjakan dengan jumlah kru yang sangat kecil kemudian ditayangkan di platform online. Untuk kategori film features, Angga Dwimas Sasongko mencoba membangunkan kembali industri film dengan garapan terbarunya, Story of Kale: When Someone’s In Love, sebuah spin off dari Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini.

Penonton NKCTHI pasti masih ingat dengan kalimat ini: ‘Bahagia itu tanggung jawab masing-masing’ dan ‘Aku pernah bahagia, lalu bahagia itu dipaksa hilang begitu aja. Kalau cuma untuk menemani kamu, aku bisa. Tapi kalau untuk bertanggung jawab atas kebahagiaan kamu, aku nggak bisa’. Dua kalimat yang cukup banyak mendapatkan highlight dari penonton. Dari kalimat itu, penonton dapat menyimpulkan Kale (Ardhito Pramono) adalah orang yang anti komitmen. Namun karena NKCTHI bukan film tentang Kale, tidak ada eksplanasi lanjutan alasan Kale menjadi seperti itu. Kehadiran Story of Kale: When Someone’s In Love menjelaskan siapa sebenarnya Kale dan alasan-alasan di balik sifat anti komitmen itu.

Secara garis besar, film ini bercerita tentang hubungan Kale dan Dinda (Aurelie Moeramas), bermula dari aksi Kale meyakinkan Dinda untuk keluar dari toxic relationship-nya dengan Argo (Arya Saloka). Dengan alur maju-mundur, cerita berselang-seling antara perjalanan hubungan Dinda dan Kale sebagai masa lampau dan ketika Dinda meminta putus sebagai sekuen masa kini.

Isu tentang toxic relationship atau hubungan beracun akhir-akhir ini memang lumayan banyak diperbincangkan, seiring dengan maraknya kampanye kesehatan mental di media sosial. Tanggapan paling umum terhadap hubungan beracun adalah anjuran untuk keluar dari hubungan tersebut, tanpa lebih lanjut menyadari bahwa sebagaimana menjalaninya, keluar dari hubungan yang tidak sehat juga bukan tindakan mudah.

Kedua tokoh utama dalam film ini bermain dalam porsi yang ‘hampir’ tepat. Secara penghayatan karakter, keduanya berhasil membawakan tokoh fiksi dalam semesta film ini dengan sangat realistis. Dinda sebagai sosok yang berpindah dari satu hubungan beracun ke hubungan lain yang tidak jauh lebih baik. Ardhito sendiri mampu mebawakan tokoh Kale yang terjebak pada trauma masa lalu keluarganya, pencemburu dan mudah terpicu amarahnya dengan cukup realistis. Umpatan-umpatan yang keluar ketika emosi juga turut menghidupkan sosok Kale.

Sayangnya, dari segi penghayatan suasana, beberapa kali emosi atau reaksi yang ditampilkan terasa kurang pas. Tanggapannya tepat, namun lonjakan emosi yang seharusnya ditampilkan rasa-rasanya masih bisa dioptimalkan lagi. Pada puncak konflik misalnya, wujud emosi Kale terasa sedikit tertahan sehingga tidak optimal, dibandingkan dengan rahasia besar yang saat itu Dinda akui. Atau gestur Dinda di awal-awal adegan bersama Argo yang terasa berlebihan hingga memunculkan kesan ‘sinetronish’.

Boleh dibilang, Story of Kale: When Someone’s in Love ini merupakan sebuah karya yang cerdas menghadapi keterbatasan. Sudah mafhum bahwa proses produksi film di tengah pandemi harus menghadapi protokol kesehatan yang cukup ketat, meskipun di Indonesia sendiri belum ada protokol resmi yang dikeluarkan pemerintah terkait hal tersebut. Irfan Ramli selaku penulis skenario mampu menyusun sekuen-sekuen secara rapi dan membuat adegan-adegan yang efektif.

Jelas bahwa Angga Dwimas Sasongko ingin memanfaatkan segala ruang yang tersedia untuk menyampaikan cerita, termasuk pemanfaatan latar tempat. Setiap latar yang dipilih turut secara efektif menyampaikan cerita kepada penonton. Studio rekaman dan panggung yang menceritakan kehidupan kental anak band, misalnya. Atau kamar hotel yang terasa mencurigakan sebagai tempat bertemu lawan jenis.

Tidak bisa dilupakan pula satu hal yang sangat identik dengan film ini: lagu-lagu Kale. Meski lumayan banyak adegan yang kemudian dilanjutkan dengan Kale dan Dinda menyanyi, hal tersebut tidak terasa berlebihan. Sebaliknya, justru lagu-lagu pengiring itu, baik dibawakan oleh Kale dan Dinda atau oleh band Arah, menghasilkan scorring akhir yang asyik.


Penulis: Fatimah Vitri Imania
Editor: Baitiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *