Peran Media dan Pers Dalam Aksi Pencegahan Terorisme dan Radikalisme

Peran Media dan Pers Dalam Aksi Pencegahan Terorisme dan Radikalisme

credit: jcomp

Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Andi Intang, Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT, dalam acara Talkshow Ngopi Coi ‘Ngobrol Pintar Cara Orang Indonesia’, mengatakan bahwa terorisme berangkat dari radikalisme. Artinya, tidak ada seseorang yang langsung dikatakan teroris, jika tidak melalui tahapan-tahapan. Tahapan disini dikatakan radikalisme. Radikal menurutnya, memiliki arti suatu sikap yang mendambakan revolusi secara total dengan menjungkirbalikkan nilai-nilai melalui kekerasan dan aksi-aksi ekstrim.

Maraknya radikalisme dan terorisme di tengah masyarakat membuat pemerintah harus bekerja ekstra untuk menjaga keamanan negara. Sejatinya, tidak hanya menjadi tugas pemerintah untuk memerangi ancaman terorisme. Melainkan seluruh lapisan masyarakat baik warga sipil, pejabat pemerintah, hingga TNI dan POLRI. Tak luput pula peran media dan pers dalam menghadapi ancaman terorisme dan radikalisme di masyarakat. Lantas, apa peran media dan pers dalam hal tersebut? Dan seberapa besarkah peran tersebut?

Peran media dan pers pada umunya adalah untuk memberitakan, menginformasikan, dan mengabarkan kepada masyarakat mengenai peristiwa yang sedang terjadi di lingkungan sosial. Dalam rangka pencegahan ancaman terorisme dan radikalisme, Yosep Adi, mantan Ketua Dewan Pers 2016-2019, menyebutkan bahwa media tentunya memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menghadapi ancaman terorisme. Hal ini dikatakan karena dalam peliputannya, berita yang diterbitkan media selalu sampai dan diketahui oleh masyarakat luas.

Kasus terorisme yang pernah terjadi di Indonesia di antaranya ialah Bom Bali, Bom Thamrin, serta Bom Surabaya. Kasus tersebut pun tak luput dari perhatian media dan pers. Salah satu anggapan yang masih dianut media di Indonesia ialah bahwa bad news is a good news. Tidak hanya itu, media juga banyak memburu clickbait dengan dramatisasi. Seperti saat tragedi di Thamrin, media berburu langsung ke lokasi untuk meliput dan memberitakan yang terjadi. Tidak hanya suasana, tetapi termasuk pula serpihan tubuh pelaku dan korban. Hal ini justru membuat media berada di posisi meneruskan pesan terorisme kepada khalayak umum sehingga masyarakat merasa takut dan terteror. Apabila berkaca dari kejadian terorisme di mancanegara, lokasi aksi terorisme langsung disterilkan oleh pihak berwenang dan media meliput dari jarak yang cukup jauh.

Oleh karenanya, Dewan Pers dan BNPT bekerjasama untuk membentuk pedoman liputan terorisme dengan harapan media dan pers lebih teratur dalam menyampaikan berita. Dewan Pers juga melakukan kerjasama dalam bentuk MoU dengan TNI dan POLRI untuk menguatkan dan mengukuhkan kebebasan pers. Ketika peliputan, media dan pers diimbau untuk menyampaikan peristiwa sesuai fakta tanpa mendramatisir. Pers dan media harus mampu membangun dan menciptakan kembali semangat masyarakat melalui berita yang diterbitkan.

Penulis: Dewi Manjasari

Editor: Baitiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *