Kedua Paslon Tanggapi Keluhan Mahasiswa PSDKU Unair dalam Safari Kampus Hari Pertama

Kedua Paslon Tanggapi Keluhan Mahasiswa PSDKU Unair dalam Safari Kampus Hari Pertama

PSDKU Unair Banyuwangi (Sumber  gambar: Unair.news)

Kedua pasangan calon (paslon) Ketua-Wakil Ketua BEM Unair 2020, Sholeh-Bobby dan Chaq-Risyad menanggapi keluhan Ajo, mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Unair Banyuwangi. Ajo mengeluhkan sulitnya akses sarana dan prasarana praktikum yang dialami mahasiswa FKH di PSDKU Unair Banyuwangi.

“Kami benar-benar merasa kesulitan dalam praktikum karena tidak ada ruang laboratorium untuk praktik. Bahkan alat-alatnya pun juga tidak memadai, ini sangat berbanding terbalik dengan teman-teman FKH di kampus utama Surabaya,” ungkapnya pada termin 2 sesi tanya jawab.

Kendala lain diungkapkan Ajo, mahasiswa merasa kesulitan untuk berkomunikasi dengan dosen, hal ini lantaran dosen jarang mengajar.

“Ada kakak tingkat saya yang sedang mengerjakan karya ilmiah dan skripsi itu mengalami kesulitan ketika bimbingan, dosennya jarang hadir,” tambahnya.

Dengan tegas Ajo menyebut status akreditasi B pada FKH PSDKU Unair Banyuwangi jauh dari kata layak.

“Akreditasi B pada FKH PSDKU Banyuwangi saja membuat kami heran. Karena pada kenyataannya, sangat jauh dari definisi Akreditasi B,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, Chaq-Risyad mendapat kesempatan pertama merespon. Untuk mengatasinya, Chaq mengatakan harus terjalin komunikasi intens dan berkala di antara mahasiswa FKH PSDKU dengan BEM Unair dan BEM fakultas.

“Yang pasti dan utama itu adanya komunikasi. Komunikasi intens yang diadakan secara berkala 1 atau 2 bulan sekali. Bisa dengan BEM Unair yang berkunjung ke PSDKU atau mengundang teman-teman FKH PSDKU ke Kampus C bertemu BEM Unair,” tuturnya.

Memperkuat argumen Chaq, Risyad menyebut komunikasi intens nantinya akan diaplikasikan melalui program kerja unggulan yang telah disusun, yaitu melalui Airlangga Foum dan Suara Airlangga.

“Melalui Airlangga Forum ini kita diskusikan bersama untuk merumuskan sesuatu, kemudian dinaikkan menjadi Suara Airlangga. Menyampaikan aspirasi ke Rektorat dengan memberikan usulan kebijakan pada ranah universitas. Kami rasa perlu juga mengadakan audiensi dengan rektorat,” tutur Risyad.

Pada kesempatan selanjutnya, Sholeh-Bobby menanggapi keluhan dengan melakukan upaya audiensi bersama pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi dan Unair.

“Pasca itu, mengawal hasil audiensi merupakan kewajiban bagi seluruh yang berkebutuhan dan bertanggungjawab atas masa depan PSDKU Unair Banyuwangi, yakni Pemkab Banyuwangi, Unair, Ormawa, mahasiswa,” jelas Bobby.

“Kawalan yang konsisten diharapkan mampu menghasilkan suatu kebijakan yang melegakan semua pihak, khususnya mahasiswa,” ucapnya penuh harap.

Terkait hal itu Bobby menambahkan 2 solusi, yaitu dengan langkah advokasi dan melakukan gerakan yang lebih masif.  Pertama, mengunjungi PSDKU Banyuwangi untuk melakukan diskusi dan membangun konsolidasi untuk advokasi. Sedangkan gerakan kedua, menyurati rektor atau melalui platform.

“Karena sudah begitu banyak aspirasi dari teman-teman PSDKU sejak beberapa tahun terakhir, maka langkah audiensi ini menurut kami menjadi dua hal yang wajib dilakukan secara konsisten dan komprehensif,” pungkas Sholeh.

Penulis: Dewi Manjasari
Editor: Risma D.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *