Kami Hanya Menjalankan Perintah, Jenderal!: Abdi yang Dihakimi dan Malangnya Dunia Literasi

Kami Hanya Menjalankan Perintah, Jenderal!: Abdi yang Dihakimi dan Malangnya Dunia Literasi

sumber: youtube

Saya terhenti, menghela napas, sambil sesekali mengusap sudut mata saya yang entah kenapa mulai basah. Ingatan saya seperti diobrakabrik tiba-tiba, pustaka dan ceramah sejarah yang saya terima ketika duduk di bangku sekolah seketika runtuh.

Hari ini barangkali hari yang paling sial bagi Iskak, Masruri, dan Sulemi atau yang paling menakutkan bagi para jenderal revolusi. Puluhan tahun yang lalu, negara kita dihadapkan oleh nestapa bergulir yang tidak hanya menghilangkan hak hidup manusia namun juga menyakiti banyak jiwa yang (ironisnya) tidak tahu apa-apa. “Kami hanya menjalankan perintah, Jenderal!” adalah upaya untuk memotret dan menyusun kembali kepingan realitas prajurit tanah air yang mengemban tugas pada malam fenomenal (G30S) kala itu. Malam yang mengubah pengabdian mereka menjadi rentetan hukuman dan penghakiman, malam yang membawa seorang abdi jatuh dalam dinginnya jeruji besi.

Relasi Kuasa hingga Dedikasi yang Berujung Ironi

Iskak, pria paruh baya itu terlihat bersemangat menceritakan kisah hidupnya 55 tahun yang lalu. Di dalam rumahnya yang sederhana ia masih mampu membaca buku setebal kamus bahasa Indonesia, jarinya yang keriput menelusuri kata demi kata di halaman pertama sejarah revolusi kita. “Saya loyal terhadap presiden soekarno,” ucapan yang terdengar dalam dan jujur, rasanya ia ingin kita untuk menggarisbawahi kalimat itu sebelum mengawali film dokumenter ini. Lewat suaranya yang masih lantang ia kembali membuka kisah pilunya, sebagai prajurit yang hanya tahu menjalankan perintah ia harus menerima untuk dipenjara 13 tahun lamanya. “Saya pernah dikasih makan jagung disebar, tidak dikasih minum,” raut wajahnya berubah. Ia kelewat kecewa, marah, sedih namun hanya bisa melanjutkan kisah istrinya yang hamil muda ketika ia dipenjara kala itu.

Film yang disutradarai oleh Ilman Nafai, pelajar asal Purbalingga ini kemudian berlanjut pada kisah prajurit kita yang bernasib serupa dengan Iskak. Masruri yang kini tertatih-tatih berjalan karena stroke yang ia derita terlihat dibantu duduk di kursi tua oleh istrinya. Dengan suara terbata-bata ia bercerita apa yang ia alami puluhan tahun lalu, seorang prajurit yang mencintai apa yang ia kerjakan. Ia tidak pernah tahu, tugasnya untuk menjemput Jenderal Suprapto kala itu menjadi mimpi buruk yang menyebabkan bibit penyakitnya saat ini, sebuah kenyataan yang tidak pernah ia inginkan. Kehilangan pekerjaan dan cinta istri pertamanya.

Film berdurasi 13 menit ini semakin berujung pilu, seperti daftar lagu melankolis yang radio kita putarkan di malam hari kita patah hati. Salemi barangkali cukup beruntung untuk lepas dari eksekusi dan vonis hukuman mati, namun lukanya akan ketidakadilan nasib masih ia rasakan, bentuk pengkhianatan tertinggi oleh negara akan pengabdiannya yang disalahpahami masih berkelindan hingga sekarang. Ubannya yang memutih menunjukkan masa berkabung itu telah lama hinggap di hidupnya. Ia disiksa seperti hewan, apa-apa yang saya tidak mampu bayangkan terjadi. Ia dipukuli hingga tulang-tulangnya patah dan kulitnya berlumuran darah. Di akhir cerita ia hanya ingin kebenaran disampaikan sebenar-benarnya, seperti merangkum segala kegelisahan kawan-kawannya ia hanya ingin hidup cukup dengan hormat sebagai abdi negara yang mencinta NKRI.

Fenomena pahit ini kembali memaksa saya untuk melihat adanya intervensi akan relasi kuasa dengan doktrin yang mereka terima.

“Kekuasaan tidak dapat dipisahkan dengan pengetahuan. Kekuasaan menghasilkan pengetahuan dan pengetahuan dibentuk oleh kekuasaan.” Apa yang disampaikan Foucault tersebut terasa dekat dan membuka kening saya atau kening kita semua. Apakah dominasi kapital, birokrasi, dan segala lini pemerintahan akan selamanya menjatuhkan manusia-manusia tidak berdaya seperti prajurit kita? Apakah teror ini akan selamanya menghantui hingga generasi kita silih berganti? Bergerak perlahan-perlahan meresapi seluruh pemahaman kita?

Saya terdiam. Suara pembawa berita pagi ini terasa seperti bising yang mengganggu telinga, mesin pencari informasi instan terasa seperti solipsisme teknologi semata. Saya menjadi gelisah dan tidak berhenti meragukan pemahaman saya, apakah benar yang saya terima sedari belajar di bangku sekolah dulu? Apakah sejarah ini mampu dikaji kembali? Apakah dialog-dialog dari beragam sisi pernah dilegitimasi? Kita akhirnya dihadapkan pada kenyataan bahwa sejarah kita terlalu banyak dicampururusi oleh berbagai kepentingan. Seperti apa yang Iskak, Masruri, dan Sulemi hadapi, kita barangkali lebih lugu dari mereka, yang tidak tahu apa-apa soal apa yang terjadi di negara kita.

Literasi, Aktivitas Purba yang Kehilangan Asa

Sejak kecil kita diharuskan untuk mampu membaca dan menulis. Tidak jarang kita diberi hukuman karena lambat membaca atau masih mengeja ketika sebaya kita sudah pandai bercerita. Seperti aib yang selalu ditutupi oleh setiap orang tua, kita yang tidak pandai mengenal huruf dan merangkainya menjadi kalimat adalah momok yang memalukan. Namun seiring waktu, keharusan untuk membaca berkembang menjadi lebih kompleks, kita diwajibkan untuk memahami konteks bacaan kita. Keharusan itu ditandai dengan banyaknya sekolah baik dari SD hingga SMA yang melaksanakan kegiatan resume setiap pagi di beberapa hari dalam seminggu. Sayangnya gerakan tersebut kehilangan fungsinya ketika banyak pengajar tidak menanamkam pemahaman yang baik akan kegiatan tersebut, kegiatan menulis dan membaca jadi rutinitas yang membosankan. Apa yang dilakukan murid tidak lebih dari upaya patuh terhadap guru, upaya administratif untuk mendapatkan nilai baik di tahun ajaran itu. Sejarah akan revolusi, gerakan 30 September dan narasi antikomunis tidak pernah ditindaklanjuti sebagai aksi kritis para pengajar di sekolah-sekolah. Akibatnya banyak dari kita yang memilih tidur dan nyaman dengan ketidaktahuan kita akan realitas yang jika dibongkar ulang mungkin dapat membantu penyintas 65 di luar sana.

Film “Kami Hanya Menjalankan Perintah, Jenderal!” pada akhirnya adalah harapan. Seperti apa yang tersemat pada pernyataan prajurit kita disepanjang film. Kami hanya ingin hidup dengan angin segar, karena kami mencinta NKRI. Harapan yang sama-sama kita perjuangkan lewat segala potensi yang kita miliki, harapan kita untuk hidup dan memanusiakan manusia seutuhnya. Dunia literasi kita dan segala nilai baik yang mampu merubah dunia lebih seimbang perlu kita bangun dan kembangkan bersama untuk arus berpikir yang lebih terbuka dan sehat kedepannya.

Sutradara: Ilman Nafai
Produksi: Gerilya Pak Dirman Film (2016)

Penulis: Silfiatur Rohmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *