BEM FISIP Adakan Webinar Seni Sulap

BEM FISIP Adakan Webinar Seni Sulap

Webinar BEM FISIP melalui Zoom (gambar: akun media sosial BEM FISIP Unair)

Reporter: Dewi Manjasari
Editor: Annisa Fitriani

Pandemi COVID-19 tidak menghambat kinerja serta program kerja yang telah disusun oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP UNAIR. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya webinar yang diselenggarakan oleh Kementerian Seni Budaya BEM FISIP UNAIR yang bertajuk ‘Eksistensi Seni Sulap Indonesia Ditengah Pandemi Covid-19’ pada Minggu (12/7) pukul 15.00 WIB melalui zoom meeting. 

Tema yang diangkat dalam webinar ini bertujuan untuk memperkenalkan seni sulap kepada khalayak umum khususnya mahasiswa FISIP dan Unair.

“Seni sulap jarang diangkat dan kurang dikenal dikalangan mahasiswa khususnya FISIP dan Unair. Terlebih di Indonesia seni sulap dianggap sebagai seni tersier. Dan hal ini yang mendasariku untuk membuat seminar daring supaya makin banyak mahasiswa yang tertarik untuk mempelajari sulap sebagai seni bahkan terjun ke industri sulap” ujar ketua pelaksana, Greg Aditya saat dihubungi Tim Mercusuar melalui akun line miliknya.

Tidak hanya itu, BEM FISIP Kementerian Seni dan Budaya juga ingin memperkenalkan bahwa seni tidak saja tentang musik, tari, teater atau perfilman. Seni sulap dapat menjadi seni yang sangat menarik dan bagus untuk diangkat. Hardiansyah Dewa, Menteri Seni dan Budaya BEM FISIP UNAIR menyebutkan bahwa BEM FISIP ingin membreakdown seni sulap serta memberikan pengetahuan tentang manajemen sulap kala pandemi berlangsung. 

Seminar daring tersebut disajikan diawali dengan sambutan serta pengenalan narasumber yang disampaikan moderator, Mary Grace (mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP UNAIR). Dilanjutkan dengan permainan sulap oleh Adrian Martinus (Jiban) yang merupakan seorang magician consultant juga sebagai narasumber dalam acara tersebut. Seminar daring ini dibuka untuk umum.

Sebelum masuk pada inti acara, Grace selaku moderator meminta Jiban untuk memberikan sedikit atraksi sulap sederhana. Jiban memainkan atraksi sulap sederhana tersebut dengan mengajak peserta untuk bermain kartu, bermain angka, dan bermain dengan kertas. Dalam permainan kartu, seperti trik sulap pada umumnya Jiban memainkan kartu remi. Permainan angka yang dilakukan Jiban mengajak peserta seminar untuk berhitung sesuai arahan darinya. Jiban menginstruksikan kepada peserta untuk menyiapkan kalkulator dari ponsel ataupun kertas coretan. Jiban akan menyebut acak peserta untuk memberitahu hasil akhirnya dan beliau akan menebak angka awal yang kita pikirkan. 

Seminar daring tersebut kemudian dilanjut dengan sesi bincang mengenai eksistensi seni sulap Indonesia khususnya ditengah pandemi. Jiban mengakui bahwa dunia hiburan tanah air sedang mengalami penurunan drastis. Tidak hanya dunia hiburan sulap saja, bahkan musik, perfilman dan lainnya pun mengalami permasalahan yang serupa. 

Jiban mengatakan bahwa sulap bukan hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai pengalaman, memiliki magical sense, juga memberikan harapan. Oleh karena itu, pandemi tentunya membawa dampak signifikan kepada pesulap Indonesia. Dampaknya banyak pesulap beralih profesi sementara untuk bertahan di masa pandemi. Pemanfaatan teknologi untuk menyebarluaskan atraksi sulap pun banyak dilakukan. Tidak dipungkiri bahwa internet terlebih youtube memiliki basis penonton yang lebih luas.  

Jiban selaku magician consultant menyayangkan tindakan pesulap yang kerap membeberkan trik rahasia dibalik aksi sulapnya. Menurutnya itu dapat diidentifikasikan sebagai ungkapan akan kelemahan pesulap dan melanggar golden rules pesulap. Terakhir, jiban membeberkan tips menghindari demam panggung sewaktu atraksi, yakni dengan mengalihkan fokus dan memegang suatu hal seperti mic, meminum kafein atau multivitamin, dan yang paling utama adalah melakukan persiapan dengan matang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *