Mendapat Tekanan, Diskusi BEM FISIP Soal Rasisme di Papua Terpaksa Batal

Mendapat Tekanan, Diskusi BEM FISIP Soal Rasisme di Papua Terpaksa Batal

Poster diskusi daring “Rasisme dalam penanganan krisis kemanusiaan di Nduga” oleh BEM FISIP Unair

Reporter: Rizqi Akmal dan Amelia Rahima
Editor: L. Fitriani

Pengadaan diskusi daring bertajuk “Rasisme dalam Penanganan Krisis Kemanusiaan di Nduga” yang diinisiasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP Unair pada Sabtu (27/6) terpaksa dibatalkan. Diskusi yang seharusnya dimulai pukul 11.00 itu tidak berlanjut setelah pada pukul 09.57 BEM FISIP Unair mengumumkan pembatalan.

Malam sebelum diskusi berlangsung, BEM FISIP mendapat kabar adanya perintah dari pihak keamanan untuk membatalkan diskusi tersebut.

“Diskusi ini awalnya sudah dipersiapkan dengan baik, namun BEM FISIP dihubungi pihak fakultas dan diinformasikan bahwa fakultas mendapat perintah dari pihak keamanan untuk membatalkan diskusi,” ungkap Manuel Agri, Ketua BEM FISIP kepada tim redaksi Mercusuar melalui pesan line.

Demi keamanan semua pihak, Agri memutuskan untuk membatalkan diskusi setelah sempat membicarakannya dengan pihak fakultas.

“Setelah didiskusikan bersama (fakultas), akhirnya dengan terpaksa BEM FISIP membatalkan diskusi tersebut. Ini demi menjaga keamanan semua pihak, baik fakultas, BEM FISIP, dan para narasumber juga,” terangnya.

Tekanan yang diberikan oleh pihak aparat keamanan kepada fakultas tidak hanya menyebabkan batalnya diskusi, tetapi juga terjadi peretasan akun WhatsApp anggota BEM FISIP yang bersangkutan langsung dengan diskusi tersebut.

“Ketika hari H yang seharusnya diskusi berlangsung, WhatsApp anggota BEM bermasalah. Kita tidak tahu siapa yang berusaha untuk membuat masalah di Whatsapp ini, di mana kita sama sekali tidak bisa mengakses Whatsapp lagi,” lanjut Agri.

Menanggapi kabar adanya tekanan dari aparat pada pihak fakultas, Wakil Dekan 1 FISIP Unair, Prof. Musta’in mengatakan bahwa ia sudah melakukan konfirmasi pada Ketua BEM FISIP terlebih dahulu sebelum ditanyai aparat. Hal itu lantaran pihak fakultas tidak mengetahui adanya kegiatan diskusi tersebut.

“Sebelum saya ditanya oleh keamanan, saya konfirmasi dulu sebagaimana saya katakan tadi. Fakultas (wadek 1) tidak tahu ada kegiatan BEM FISIP Unair ini,” sebutnya melalui pesan daring.

Sementara itu, Prof. Musta’in enggan menjawab saat ditanya lebih lanjut terkait pihak aparat yang dimaksud.

Batalnya diskusi bukan berarti BEM FISIP berhenti menyelenggarakan diskusi terkait krisis kemanusiaan di Papua. Yoga Haryo menegaskan isu tersebut penting untuk dibahas di kalangan mahasiswa.

“Diskusi ini dibatalkan karena butuh peninjauan bukan ditunda karena butuh pertimbangan, tapi bukan berarti menutup kemungkinan bahwa ke depannya kami akan adakan diskusi mengenai krisis kemanusiaan di Papua lagi, karena bagi kami isu ini sangat penting untuk dibahas, terutama oleh mahasiswa,” pungkasnya.

Tekanan, teror digital, atau hambatan lainnya terhadap penyelenggara diskusi tentang penegakan HAM di Papua terus terjadi. Sejumlah kampus seperti Unila, UI, dan UGM baru-baru ini turut mengalami permasalahan yang tidak jauh berbeda hingga berujung pembatalan diskusi.

Ini bukan kali pertama BEM FISIP Unair mengangkat isu kemanusiaan di Papua sebagai tema diskusi. Pada September tahun lalu, diskusi terkait konflik Papua di Surabaya juga terpaksa dibatalkan lantaran adanya ancaman yang mengatasnamakan aparat keamanan. Hal itu sempat mengakibatkan kegiatan akademik di kampus B Unair dihentikan dan area kampus disterilisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *