Hari Pertama, Tiga Kandidat Calon Rektor Unjuk Visi Misi

Hari Pertama, Tiga Kandidat Calon Rektor Unjuk Visi Misi

Uji masyarakat kampus hari pertama bertempat di Aula Garuda Mukti, Lt. 5, Gedung Manajemen Unair Kampus C (sumber: MERCUSUAR/Ammay)

Reporter : Amelia Rahima, Rizma Ammay
Editor : Rizma Ammay

Tiga kandidat calon rektor Universitas Airlangga (Unair) paparkan sejumah visi misi di hari pertama dalam rangkaian agenda uji masyarakat kampus yang dilangsungkan pada Selasa siang (18/2). Bertempat di Aula Garuda Mukti, ketiganya menyampaikan visi misi berdasarkan nomor urut pencalonan. Dr. Muhammad Nafik, H. R. SE., M.Si, penyampai pertama dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), disusul Prof. Dr. Rahmi Jened, S.H., M.H., dari Fakultas Hukum (FH) dan sebagai yang terakhir Dr. Eridani, Drs., M.Si. dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST).

Fokus yang disampaikan Dr. Muhammad Nafik mengacu pada entrepreneur university, ia berharap Universitas Airlangga menjadi perguruan tinggi yang mampu mandiri secara finansial, selain dari dana masyarakat dan mahasiswa.
“Mandiri di sini adalah mampu membiayai dirinya sendiri, tidak hanya mengandalkan dana dari masyarakat dan mahasiswa,” jelasnya.

Sementara itu, Prof. Rahmi menekankan pada inovasi, virtual, sharing, dan mengomersialisasikan HKI (Hak Kekayaan Intelektual).
“Kemudian kita juga melakukan nomenklatur, dalam akreditasi selalu disebutkan bahwa HKI bersifat paten,” tegasnya.

Berbeda dengan keduanya, Dr. Eridani menjelaskan pentingnya pengelolaan pembelajaran mahasiswa, baik yang berasal dari rumpun Saintek (Sains dan Teknologi) maupun Soshum (Sosial Humaniora).

Di akhir sesi, Rudi Purwono selaku moderator dan Nanik Siti Aminah sebagai CO moderator memberi kesempatan peserta yang hadir untuk bertanya pada kandidat calon rektor. Salah satu pertanyaan adalah mengenai kesejahteraan pegawai.

Dalam kesempatannya menjawab, Prof. Rahmi menegaskan, pegawai tidak tetap menjadi prioritas yang perlu diperhatikan, selain itu indikator lain seperti kompetensi berbasis kinerja juga diutamakan.
“Yang harus kita prioritaskan adalah mereka (baca: pegawai tidak tetap) yang berada dalam daftar tunggu untuk menjadi pegawai negeri. Selain itu juga berdasarkan kompetensi yang berbasis kinerja karena dalam kata inovasi yang diunggulkan adalah competitiveness, sehingga kesejahteraan juga berbasis pada kinerja,” ungkapnya.

Prof. Rahmi menyayangkan Unair yang notabene kampus besar tidak memberikan reward atau kesempatan paket beribadah, termasuk umroh bagi karyawan bermasa kerja lebih dari tiga puluh tahun, ia juga menjelaskan asal sumber dana kampus dan bagaimana cara meningkatkannya.

Tak hanya itu, ia juga menyampaikan akan menyumbangkan seluruh gajinya sebagai rektor apabila ia terpilih menjadi Rektor Unair 2020-2025.
“Gaji saya akan saya sumbangkan sepenuhnya. Saya sudah cukup dengan sebagai guru besar, setifikasi, dan saya juga sudah ada kantor di luar,” imbuhnya.

Menjawab persoalan kesejahteraan warga kampus, Dr. Nafik memaparkan posisi Unair yang berada pada posisi research university perlu ditingkatkan lagi menjadi entrepreneur university.
“Sekarang posisinya adalah kita harus mulai transisi ke entrepreneur university. Untuk apa, yaitu untuk mengomersialisasikan hasil inovasi-inovasi untuk direalisasikan. Nanti kalau sudah menjadi entrepreneur university, insyaallah uang akan masuk. Kalau uang ini sudah masuk kesejahteraan itu bisa ditingkatkan,” jelasnya.

Sementara itu, Dr. Eridani mengatakan Unair dapat bekerja sama dengan pemerintah kotamadya, pemerintah provinsi, atau instansi lain demi menciptakan kolaborasi yang tepat dan menguntungkan. Menurutnya, apabila kerja sama itu sukses dijalankan, maka akan berdampak pada reputasi Unair sendiri.
“Jika kerja sama itu terlaksana, maka akan berdampak pada reputasi Unair, artinya, peringkatnya akan mengalami kenaikan,” pungkasnya.

Serangkaian agenda uji masyarakat kampus yang dilangsungkan selama tiga hari berpangkal kemarin dan berakhir pada Kamis, (20/2) di tempat dan waktu yang telah ditentukan panitia Pemilihan Rektor (Pilrek) dengan keenam kandidat lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *