Dramaturgi XV Sukses Pentaskan Kisah Nyai Ontosoroh

Dramaturgi XV Sukses Pentaskan Kisah Nyai Ontosoroh

Sesi akhir pementasan Dramaturgi Hikayat Perlawanan Sanikem, Nyai Ontosoroh yang bertempat di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya pada Jumat malam, (20/12). (Mercusuar/Ammay)

Reporter: Rizma Ammay

Editor: L. Fitriani

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair kembali sukses menggelar pentas Dramaturgi untuk kelima belas kalinya. Pementasan yang berlangsung di Gedung Kesenian Cak Durasim pada Jumat malam (20/12) itu merupakan tugas akhir mata kuliah wajib peminatan sastra di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Kali ini, naskah yang terpilih untuk dipentaskan adalah “Hikayat Perlawanan Sanikem: Nyai Ontosoroh” yang diadaptasi dari Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Dosen pengampu mata kuliah Dramaturgi, Puji Karyanto dalam sambutannya menyampaikan maksud dipentaskannya naskah tersebut sebagai wujud kontribusi budaya untuk Kota Surabaya.

“Isu yang diangkat pada malam hari ini adalah tentang kisah Hikayat Perlawanan Sanikem, sebuah karya untuk menghormati praktisi teater di Surabaya dan sekaligus sebagai salah satu cara kami untuk memberikan kontribusi kepada Kota Surabaya agar semakin dikenal karena peristiwa kebudayaannya,” ungkapnya.

Nasrullah Ismail selaku pimpinan produksi juga menyebut diangkatnya kisah Nyai Ontosoroh tersebut untuk menjawab pertanyaan dan persoalan berkaitan dengan budaya patriarki yang berlangsung di Indonesia.

“Yang kita sampaikan sebenarnya tema feminisme. Di mana kita mengkritik budaya patriarki di Indonesia yang masih kental. Kita memunculkan patriarki itu dari bagaimana kejamnya Bangsa Eropa menekan Nyai Ontosoroh, Sanikem, tetapi yang kita tunjukkan adalah bahwa ini perjuangan kaum feminisme,” jelasnya.

Lebih lanjut, Nasrullah mengatakan bahwa dalam pementasan Dramaturgi yang dimulai pukul 19.00 hingga 21.00 itu mampu meraup jumlah pengunjung yang cukup besar, yaitu dari target penjualan sebanyak 400 menjadi kurang lebih 485 tiket.

Menurutnya, pembentukan karakter mahasiswa yang notabene bukan berlatar belakang teater menjadi pemain teater sungguhan merupakan sebuah tantangan tersendiri, terlebih, latihan hanya dilakukan sekitar tiga bulan. Namun, dengan berlatih secara fisik, vokal, hingga psikologi yang dilakukan dengan sederhana namun rutin, pencapaian itu berhasil didapatkan.

“Tiga bulan yang sangat keras. Akhirnya terbayar sudah dengan pementasan ini,” pungkas Nasrullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *