Sisi Kelam Narasi Kepahlawanan: Pembantaian yang Terlupakan

Sisi Kelam Narasi Kepahlawanan: Pembantaian yang Terlupakan

Spanduk pinggir jalan di Indonesia yang berbunyi “Kami tidak suka Belanda!”. September 1945 (Arsip Kementerian Pertahanan Belanda)

Penulis: Dr. Rosalind Helwett
Penerjemah: Muhammad Faisal Javier Anwar

Diterjemahkan dari artikel di insideindonesia.org berjudul “The forgotten killings”

Hari Pahlawan mungkin merupakan salah satu kisah membanggakan dalam historiografi Indonesia. Kisah keberanian para pejuang Surabaya menghadapi gempuran Inggris—salah satu negara pemenang Perang Dunia II, menjadi memori kolektif yang terus diulang-ulang setiap tahunnya. Drama dan parade kolosal digelar rutin untuk mengabadikan memori kolektif tersebut.

Namun, tersimpan kisah mengerikan di balik sakralnya narasi kepahlawanan,yakni  periode Masa Bersiap. Masa Bersiap (Bersiap-tijd) adalah fase kacau dalam Revolusi Indonesia sejak pertengahan Agustus 1945 hingga awal 1946. Pembunuhan, pemerkosaan, dan penjarahan tak hanya menyasar orang Eropa dan Indo, ataupun mereka yang dianggap pro-Belanda, seperti etnis Ambon, etnis Minahasa, dan etnis Tionghoa. Literatur lain menyebut golongan bangsawan juga menjadi sasaran massa pro-Republik.

Artikel ini ditulis Rosalind Hewett dan diterbitkan pertama kali di Inside Indonesia, kemudian diterjemahkan Muhammad Faisal Javier Anwar. Artikel ini berusaha menghadirkan narasi sejarah Indonesia yang hilang dalam membahas era Revolusi Indonesia: pembantaian yang dilakukan para pemuda pro-Republik selama Masa Bersiap. Artikel ini menyingkap asal muasal kekerasan selama Masa Bersiap, dan bagaimana pembunuhan massal selama Masa Bersiap terlupakan begitu saja hingga kini.

***

Terdapat dua monumen penting di Surabaya yang mengenang perjuangan para pemuda Indonesia melawan Belanda pada 1945-1949. Pertama ialah Monumen Bambu Runcing, yang menyimbolkan bambu runcing, senjata yang banyak ditenteng oleh para pemuda selama era Revolusi. Kedua, sebuah plakat peringatan yang terletak di komplek Balai Pemuda, yang merupakan bekas bangunan Simpang Club. Tulisanyang tertera menyebut:

“Di jaman Belanda gedung ini dipakai klab orang-orang kulit putih. Pribumi dan anjing dilarang masuk.Daribulan September-November 1945, dijadikan markas besar PRI (Pemuda Republik Indonesia). Pusat perlawanan pemuda Indonesia terhadap pasukan Inggris Sekutu yang mencengangkan dunia.”

Kedua monumen tersebut mengabadikan pemuda sebagai pahlawan kemerdekaan yang mengusir Belanda dan sekutunya dari Indonesia. Masalahnya, kedua monumen hanya menghadirkan satu sisi sejarah, yang ditulis dan dibentuk oleh pemenang untuk menjustifikasi bahwa apa yang mereka lakukan ditujukan bagi kemaslahatan  bangsa Indonesia.

Memaafkan Pembunuhan Massal

Historiografi Indonesia dalam menggambarkan pembunuhan massal selama tahun 1945-1947 bergerak dalam kerangka yang sama seperti penulisan sejarah Tragedi 1965: secara umum menggambarkan aksi tersebut merupakan pilihan tak terelakkan demi keberlangsungan bangsa Indonesia.

Otobiografi dan sejarah populer di Indonesia menggambarkan aksi para pemuda terhadap kelompok bersenjata orang-orang Belanda dan Indo dan bekas kolonial Jepang sebagai perbuatanekstrim namun dibutuhkan sebagai respon terhadap penindasan kolonial, dan juga mencegah kolonial berkuasa kembali pasca menyerahnya Jepang. Cerita-cerita tersebut tidak menyebut berapa banyak korban, termasuk wanita, anak-anak dan orang tua. Mereka juga tidak menyebut jumlah signifikan korban dari etnis-etnis yang kini digolongkan sebagai orang Indonesia. Hanya beberapa cerita yang menyebut pembunuhan insidental di luar kontak senjata yang dilakukan  massa yang di luar kontrol, sama seperti Tragedi Pembantaian Massal 1965.

Tetapi arsip Belanda dan Inggris berkata lain. Catatan-catatan arsip tersebut mengindikasikan para pemuda sengaja mengumpulkan dan membunuh pria, wanita, dan anak-anak tak bersenjata, atau memaksa orang-orang Indonesia lain melakukannya. Korban terbesar bukannya datang dari orang-orang Belanda dan Indo, namun justru dari mereka sesama bangsa Indonesia. Kebanyakan merupakan orang-orang Ambon dan Manado, namun para pemuda turut menghabisi orang-orang Timor, Tionghoa peranakan, wanita Jawa dan Sunda yang menikah dengan pria Eropa, anak Indonesia yang diadopsi keluarga Belanda, dan orang Indonesia yang bekerja sebagai pegawai kolonial.

Beberapa otobiografi dan kesaksian meyakini kelompok pemuda menargetkan keluarga Eropa, Indo, Ambon, dan Manado di Jawa berdasarkan penampilan mereka, terlepas apakah mereka loyal kepada Belanda aatau tidak. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk membuktikan apakah massa sengaja berniat menghabisi kelompok etnis tersebut, namun pembunuhan terhadap bayi dan anak kecil setidaknya menandakan adanya niatan tersebut.

Melaksanakan Pembunuhan Massal

Istilah Masa Bersiap lahir dari teriakan para pemuda saat memasuki desa-desa, “siap-siap!”, ketika kekerasan semakin meningkat pada tahun 1945. Mereka menyebarkan propaganda melalui selebaran dan pengeras suara, kemudian mengumpulkan keluarga setempat yang dianggap mendukung Belanda berdasarkan etnisnya.

Salah satu peristiwa yang terkenal terjadi pada 10 Oktober pagi, ketika sebuah mobil dengan pengeras suara berjalan pelan di jalan-jalan Kota Garut, Jawa Barat, menyerukan pembunuhan orang-orang Eropa, Ambon, Manado, dan Jepang. Sejam kemudian, mereka semua dipaksa keluar rumah dan dibawa ke alun-alun desa di mana massa telah berkerumun. Berdasarkan kesaksian saksi mata, massa pun menghabisi para tahanan. Pimpinan pemuda kemudian membayar para pembunuh dengan berlian dan emas yang dirampas dari korban.

Sejumlah kesaksian dari peristiwa di Surabaya dan Kuningan di Jawa Barat mengungkap cerita para tahanan pria yang dipaksa berlari menerobos barisan pemuda bersenjatakan bambu runcing dan pisau untuk sampai ke penjara. Laporan dari seluruh Jawa menyebut banyak tahanan hilang pada tengah malam dari sel penjara mereka dan dikubur secara tergesa-gesa di kuburan massal. Wanita dan anak-anak biasanya dikirim ke kamp tawanan dan tahanan pria yang masih hidup dikirim ke kamp terpisah. Sejumlah kamp di Jawa Timur menjadi tempat penyiksaan dan pembunuhan yang terkenal kejam, yang paling terkenal berada di Pacet, yang terletak antara Malang dan Surabaya.

Sedangkan di Jawa Barat, kelompok pemuda lain tidak mengumpulkan para korbannya terlebih dahulu, melainkan langsung membunuh keluarga incaran di dalam rumah mereka masing-masing, biasanya dengan menusuk mereka menggunakan bambu runcing, dan juga dengan mengubur dan membakar hidup-hidup.  Kelompok pemuda di seluruh Jawa juga memboikot suplai makanan ke keluarga Belanda dan Indo, menyebabkan mereka terpaksa mengandalkan pelayan mereka yang orang Indonesia untuk menyelundupkan makanan. Akan tetapi, propaganda para pemuda juga menyasar bekas pelayan keluarga Belanda dan Indo, dan mengancam mereka jika berani membantu keluarga Belanda dan Indo.

Kesaksian akan kekejaman tersebut umumnya terbatas dari kesaksian orang pertama yang dikumpulkan pada 1947 dan 1948 oleh intelijen Belanda dari saksi mata dan laporan interogasi. Perkiraan jumlah korban orang Belanda dan Indo pada periode Masa Bersiap berkisar antara 3.500 hingga 30.000 jiwa. Orang-orang Indo yang melarikan diri dari Indonesia mengingat periode Masa Bersiap sebagai percobaan genosida orang-orang Indo. Orang-orang Ambon dan Manado pun turut terdaftar sebagai korban, kemungkinan akibat banyaknya orang-orang dari etnis tersebut yang bergabung Tentara Hindia Belanda (KNIL) dan pegawai kolonial, sehingga dianggap sebagai bagian dari Belanda.

Simpang Club

Balai Pemuda Surabaya yang merupakan bekas bangunan De Simpangsche Societeit. Saksi sejarah pembunuhan massal orang-orang yang dicap pendukung Belanda oleh kelompok pemuda pro-Republik. (Pinterest/Widya)

Peristiwa pembantaian yang paling diingat terjadi di Surabaya antara September dan November 1945. Orang-orang Eropa, Indo, Ambon, dan Manado, pria maupun wanita, dikumpulkan dengan dalih melindungi mereka dari kekerasan, dan menawan mereka di Simpang Club (sekarang komplek Balai Pemuda). Jika ditemukan benda-benda yang berhubungan dengan Belanda, seperti bendera, pin, dan lainnya pada diri mereka, mereka langsung dihabisi di tempat dengan cara dipancung. Jika tidak, mereka akan diinterogasi lebih lanjut dan dibawa ke Penjara Kalisosok dan Bubutan. Mereka yang dikirim ke Bubutan kemudian tidak pernah ditemukan lagi. Berdasarkan sebuah kesaksian, sisa jejak para tahanan yang dapat ditemukan hanyalah tumpukan potongan kaki, masih dengan sepatu terpasang.  Para saksi mata peristiwa di Simpang Club melaporkan adanya interogasi, penyiksaan, dan pembunuhan ratusan orang, terutama pada 15-17 Oktober. Para tahanan yang masih hidup dipaksa membersihkan darah korban yang menggenangi lantai ruang eksekusi.

Cerita yang paling kontroversial terkait Tragedi Simpang Club datang dari seorang wanita Indonesia yang menyebut Sutomo (Bung Tomo)—yang terkenal dengan seruannya di radio selama Pertempuran Surabaya, dan kerap kali digambarkan sebagai figur utama Pertempuran Surabaya— sebagai otak di balik pembunuhan massal. Dalam otobiografinya, Sutomo mengklaim bahwa ia hanya hadir sekali di Simpang Club pada saat itu. Ia mengaku bahwa ia dibawa oleh pemuda lain sebagai ‘tahanan’, dan ia pun khawatir melihat kelakuan para pemuda yang haus darah dan membantai para tahanan Belanda.

Namun ceritanya tersebut berlawanan dengan cerita para pemuda Jawa Timur lain yang menunjuknya sebagai pemimpin pemuda. Hanya saja, membahas secara luas keterlibatan Sutomo dalam Tragedi Simpang Club menjadi hal tabu, terutama karena Sutomo merupakan pahlawan nasional.

“Hanya saja, membahas secara luas keterlibatan Sutomo selama Masa Bersiap menjadi hal tabu, terutama karena Sutomo merupakan pahlawan nasional”

Melupakan Pembunuhan Massal

Sulit menemukan bukti kekerasan selama Masa Bersiap di Indonesia lantaran topik ini nyaris tidak pernah diperbincangkan dalam cerita-cerita resmi dan populer. Buku sejarah, otobiografi, film, dan bahkan komik menggambarkan pemuda sebagai pahlawan revolusi yang memaksa pimpinan Republik yang lebih berhati-hati seperti Sukarno dan Hatta untuk mengambil keputusan. Referensi dari beberapa otobiografi membenarkan hilangnya pria dan wanita Manado dan Timor di Jawa, namun hanya sekilas. Upaya mencari saksi dari Indonesia pun berjalan sulit lantaran banyak dari mereka yang melalui periode Masa Bersiap telah tiada. Dalam wawancara yang saya lakukan dengan orang-orang Indo di Jawa, mereka enggan mengakui jika mereka menyaksikan kejadian secara langsung, meski mereka mengakui jika mendengar cerita orang lain.

Masalah utama yang harus dihadapi ialah pertimbangan ideologis yang menghalangi laporan pembunuhan. Cerita tentang pembunuhan etnis-etnis tertentu dianggap menghalangi narasi persatuan nasional yang digembar-gemborkan pemerintahan Indonesia. Akibatnya, setelah revolusi berakhir, nyaris tidak ada inisiatif di Indonesia untuk menyelidiki kasus pembunuhan massal. Peringatan secara luas aksi para pemuda di Jawa Timur semakin membatasi pembahasan aksi para pemuda sesungguhnya selama Masa Bersiap. Kebenaran tentang pembunuhan orang-orang sipil selama Masa Bersiap tetap sepenuhnya tabu dibahas jika romantisasi perjuangan kemerdekaan terus dilakukan secara signifikan.

Tanpa adanya penjelasan sejarah yang lebih luas sebagai rujukan, maka pembunuhan yang terjadi pada periode Masa Bersiap hanya akan dilihat sebagai akibat kekacauan di Pulau Jawa dan korban yang berjatuhan hanya dilihat sebagai kemalangan semata. Fakta bahwa kekerasan terjadi sedemikian rupa—penawanan secara sengaja dan pembantaian mereka yang dicap sebagai pendukung kolonialisme— tertutupi oleh berlalunya waktu, pertimbangan ideologis, dan kurangnya bahan bukti. Menguak pembunuhan massal yang terjadi di Jawa dan Sumatra pada awal era Revolusi hanya akan terjebak pada dikotomi korban ‘pribumi’ Indonesia dan ‘kolonial’ asing. Pada akhirnya, kebenaran kisah pembunuhan selama periode Masa Bersiap mungkin tidak akan pernah sepenuhnya terungkap lantaran semua alasan tersebut.

***

Dr. Rosalind Hewett staf pengajar Department of Political and Social Change, College of Asia and Pacific, Australian National University.

Muhammad Faisal Javier Anwar alumni S1 Hubungan Internasional Unair dan mantan anggota LPM Mercusuar Unair.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *