Pengais Karsa

Pengais Karsa

credit : Itamar Katz

Pengarang : Nic

Jika masih ada yang protes akan hidup adalah aku. Jika masih ada yang rindu akan ketenangan hidup adalah aku. Aku Rami, wanita paruh baya yang dibesarkan di lingkungan kumuh tak terengkuh. Aku telah lupa kapan terakhir kali dicambuk penggaris oleh guru saat kuku jari-jariku mulai panjang tak terawat.

Tak ada harapan untuk terus melanjutkan pengobatan kakak yang mulai parah. Penyakit langka yang diidapnya bernama MT (Mielitis Transversa). Aku bekerja sebagai pelayan di warkop milik Mbok Je, yang terletak di pinggir kali dekat rumahku.

***

“Aku tak pernah mau kau paksa menetap di rumah ini, tapi apa kini?”

“Lalu aku harus bagaimana agar membuatmu tetap bertahan sebulan lebih lama menemaniku disini?”

“Pulangkan aku,” tangisku pecah saat itu juga. Pramono merengkuh tubuhku yang tak lagi muda. Memapahku untuk segera beristirahat.

Aku tahu, ia tak benar-benar berniat untuk memberiku jalan agar hidupku lebih baik. Sejak pertama bertemu dengannya aku menolak ajakannya untuk berumah tangga. Dan kini aku justru terjebak diantara para pria berkumis, berbaju rapi dengan rambut klimis.

Tangis tak menyelesaikan masalah, aku terpaksa menahan amarah. Aku memutuskan untuk bertahan kurang dari dua bulan di sini, sementara Pramono memohon agar aku tetap di sini menemaninya sekaligus menjadi pelayan dalam bisnisnya.

Aku tak tahu, apa bedanya aku sebagai pelayan warkop dengan pelacur di rumah bordil? Setiap malam tubuhku basah oleh liur juga keringat pria mapan. Terlebih mereka yang mampu membayar mahal untuk berlama-lama denganku.

Aku memang tidak lagi muda, tetapi fisikku masih sama layaknya gadis berumur 20 tahun. Tak ada yang tidak ingin merengkuh, menjilat, meremas bagian tubuhku di tiap malam. Aku tak tahu jika Pramono memang tak pernah menginginkanku.

***

“Pulangkan aku Pram, aku sudah bertahan 2 bulan lebih disini.”

“Kontrak kita masih 2 tahun lagi sayang.” Tangannya berusaha meraih pundakku, aku menepisnya kasar.

“Aku tak mengerti kenapa kau berlaku sedemikian terhadapku Pram. 2 tahun bukan waktu yang sebentar, sementara kau membiarkan tubuhku dijamah belasan pria tiap malam. Kau menikahiku hanya untuk mengamankan diriku dari fitnah, alibimu saja. Strategi marketingmu aku apresiasi, tapi aku tak perlu menunggu surat perjanjian itu menguning agar aku bisa meninggalkan rumah ini.”

Pramono tak lagi dapat menahanku, kini aku pergi dan pulang menemui kakak di rumah. Tidak untuk menceritakan semua peristiwa yang menertawakanku, biar kakakku tetap melihat aku sebagai pelayan warkop Mbok Je. Bukan sebagai “istri” dari Pram, maupun sebagai pelacur di rumah bordil milik Pram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *