Mengutamakan Tuntutan, Aliansi Kekuatan Sipil Menolak Jamuan

Mengutamakan Tuntutan, Aliansi Kekuatan Sipil Menolak Jamuan

Elemen massa sedang berdebat dengan pihak Pemprov Jatim di Gedung Grahadi pada Selasa (8/10). (MERCUSUAR/Rizkia Dinda)

Reporter: Rizkia Dinda B.
Editor: Iqbal Yanuar Ramadhan

Selasa (8/10) malam sekitar pukul 19.45, lebih dari 40 orang perwakilan Aliansi Kekuatan Sipil (AKSI) mendatangi Gedung Negara Grahadi Surabaya. Mereka datang memenuhi undangan dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dan bermaksud mengajukan tuntutan.

Massa pertama kali diarahkan untuk menikmati sajian yang telah disiapkan di belakang Gedung Grahadi. Namun massa menolak sebelum tuntutan mereka terpenuhi. Zamzam Syahara, koordinator AKSI, menyampaikan lewat mikrofon, “Teman-teman tolong jangan makan dan minum sama sekali. Karena banyak teman-teman kita di luar sana yang masih menderita,” serunya.

Suasana sempat memanas ketika pihak pemprov berusaha untuk menghentikan Zamzam dan mengambil mikrofon yang dipegangnya. Akhirnya massa aksi mengajukan untuk langsung masuk ke dalam ruangan agar tuntutan dapat segera disampaikan.

Di dalam ruangan, suasana kembali memanas dikarenakan Ibu Khofifah menolak bertemu. Penolakan ini disampaikan oleh Kepala Bakesbangpol Jatim Jonathan Judianto. Ia justru menekan massa agar melakukan re-schedule pertemuan. Mereka berkelit undangan hari ini adalah dalam konteks ‘silaturahmi’, dan dalam silaturahmi tidak sepatutnya ada pembahasan tuntutan. Sebaliknya, massa tetap pada pendirian mereka untuk bertemu Ibu Khofifah. Menurut mereka, silaturahmi sejatinya adalah dialog untuk menagih tuntutan yang sampai hari ini masih terkatung-katung.

Pemprov juga menyayangkan sikap massa yang dianggap tidak beretika karena menolak jamuan. “Terima kasih atas jamuannya sebelumnya, tapi poin yang penting adalah tuntutannya. Sekali lagi, perdebatan mengenai makan dan silaturahmi ini tidak substansial. Poin utamanya adalah bertemu dan tuntutan ini diterima,” begitu menurut Risyad Fahlefi, salah satu massa yang juga Ketua BEM FISIP Unair.

Melihat perdebatan yang tak kunjung usai, Airlangga Pribadi, dosen Unair yang terlibat aktif dalam menghubungkan massa dengan pemprov, angkat bicara. Dirinya menyayangkan tidak adanya koordinasi dari massa terkait sikap menolak jamuan. Sempat terbawa emosi, Pak Airlangga juga menyalahkan massa yang tidak dapat memanfaatkan dengan baik sarana yang sudah disediakan.

Suasana semakin tidak terlihat akan berakhir dengan memuaskan, ketika tiba-tiba Suko Widodo, pakar Komunikasi Politik Unair, masuk dan mengajak massa untuk mai’ah-an dengan membaca Al-Fatihah. Merasa diselesaikan secara sepihak, massa menginterupsi.
“Gini Pak Suko, saya mau tanya, dialog atau tidak?” sela Zamzam.
Karena pemprov masih bersikeras untuk menolak, maka tepat pukul 20.45 massa akhirnya memilih untuk melakukan walk out.

Adapun tuntutan yang diajukan oleh massa adalah tuntutan yang sama saat aksi Surabaya Menggugat kemarin (26/7).
Selain itu, ketika ditanya tentang kemungkinan aksi lanjutan, Zamzam menjawab akan melakukan konsolidasi terlebih dahulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *