Ketika Setan Punya Sosmed

Sumber: Pixabay

Oleh: Tiyafauzi

Siang ini aku duduk sendirian—tidak juga, aku duduk beramai-ramai tapi karena tak ada yang menghiraukanku, kusebut saja sendirian. Sembari memegang ponsel, kebosananku yang terlalu mengakar mengikis sedikit demi sedikit keinginanku melakukan hal-hal bermanfaat. Atau tepatnya, gabutku disertai magerku, pasangan cocok.

Orang-orang berlalu lalang seperti mereka adalah makhluk tersibuk di dunia, yang paling banyak kerjaannya, padahal aku tahu betul mereka hanya melakukan hal-hal kosong. Pura-pura sibuk supaya tampak sibuk, dianggap penting. Sampai puncak kerjaan mereka yang sesungguhnya; menganggap keberadaan orang lain sebagai ketiadaan.

Ah, semakin jenuhlah aku jika memikirkan mereka. Tawaran menggiurkan lalu dimunculkan benak yang disetujui pikiran hingga dilaksanakan tubuh. Dalam hal titah-menitah, memang akulah jagonya. Jangankan diriku, orang saja sering termakan bujuk rayuku. Hahaha.

Kubuka kunci ponsel, lalu menu, lalu geser-geser-geser, lalu kusentuh ikon semi persegi yang di bawahnya memampangkan tulisan, ‘Instarig’. Aku tertawa keras setiap membaca nama ini. Betul-betul ejekan yang sangat menyenangkan. Tak terkecuali sekarang.

Kutolehkan kepala memandangi orang-orang, sekejap saja, sebelum mulai berselancar di dunia lain—ruhku di dunia lain, hidup pula di dunia yang lebih lain dibanding dunia lain. Senyumku mulai muncul saat melihat postingan temanku; swafoto dirinya dengan wajah ceria dipaksakan dengan keterangan, ‘Wajah lelah usai disalahkan tanpa berbuat salah (lagi-lagi)’. Kusentuh dua kali fotonya hingga muncul simbol peti mati di tengah, lalu lenyap. Aku mengusap ke atas, kiriman beberapa teman yang lain juga hampir berkonten sama meski dengan gambar berbeda-beda, ada yang swafoto, foto pemandangan, foto rumah yang baru ditimbun, foto perumahan dengan rumah dan anggota baru, dan sebagainya.

Namun di antara semuanya, ada kiriman salah seorang teman dekatku—ah, sebut saja gebetanku, yang jarang memposting sesuatu. Juga, kali ini dengan keterangan sedikit panjang. Aku tersenyum, sebelum aku membaca akhir dari keterangannya. Begini isinya:

Hari ini aku cukup percaya diri untuk tidak melakukan hal-hal bodoh. Menghasut satu atau dua kali, bisa saja. Tapi aku benar-benar lelah, jadi aku hanya sebagai penonton. Masalahnya, meski aku diam pun aku masih disebut-sebut sebagai biang kerok. Yang paling membuatku muak adalah ketika orang di depanku meminum alkohol untuk pertama kalinya, bersama teman-temannya, lalu tiba-tiba ibunya datang dan teman-temannya lari meninggalkannya. Dia langsung berucap penuh takut dan pembelaan, “Maaf, Bu, aku dihasut setan. Aku nggak bisa tahan godaan mereka.” Ya ampun, aku langsung berteriak, “AKU DIAM SAJA SEJAK TADI, BODOH. BELUM JUGA MENGHASUT SUDAH KAU JADIKAN KAMBING HITAM SAJA AKU INI.” Ah, karena orang-orang itu tak ada yang bisa mendengarku, ya sudahlah ya. Aku ikhlas dan memaafkan bocah itu. Maaf kukeluarkan logatku.

Geram melingkupi diriku. Memang akhir-akhir ini kami selalu menjadi korban. Kami kerap dikambinghitamkam. Orang-orang selalu berbuat jahat, pelakunya mereka sebut sebagai kami. Padahal semuanya diawali mereka, diakhiri oleh mereka. Di mana letak kaminya?

Permasalahan saat ini adalah orang-orang dan sikap mereka. Segala salah dilemparkan pada kami, segala benar diakui oleh masing-masing mereka—sampai mereka lupa siapa pemilik kebenaran yang sebenarnya, sepertinya. Aku yang sedang hiatus menghasut manusia, dan berganti menjadi pengamat, jadi sulit membedakan siapa sebenarnya yang setan? Kami yang memang bertugas menghasut atau mereka yang terlalu dikuasai nafsu tapi melemparkan  kesalahan atas nama kami? Hayo, jawab yang jujur!

Karena, menurutku, sikap mereka terlalu mirip dengan kami. Berbuat maksiat, lalu sembunyi tangan. Ah, bukan lagi batu yang mereka lemparkan. Tapi kemanusiaan. Duh. Mereka itu, kuberitahu, terlalu sok menganggap dirinya benar, pintar, padahal untuk membedakan antara nafsu dan godaan setan saja mereka payah. Heran aku, Ya Tuhan!

Loh, kok malah aku yang nyebut?

Kuselesaikan dengan lini masa, jariku berubah haluan menuju fitur Rigcerita di bagian atas. Pertama, foto rumah baru; tanah yang masih menyembul ke atas, tampak masih basah. Oke, kami kedatangan anggota baru. Kedua; Mbak Kun dan Mas Po yang terciduk pacaran di pucuk pohon cemara sambil bernyanyi tralala lalalalalala. Tidak penting. Ketiga; perumahan baru, mirip dengan bangsal kota sebelah. Bagus sekali, serius! Tapi diam-diam aku prihatin pada penghuninya, sebab semua itu percuma, kami tak lagi mengharapkan kemewahan dunia. Orang sudah mati, ya bukan di dunia lagi!

Setelahnya, hanya rigcerita yang tidak berfaedah, membuang waktuku. Foto di mall lah, rigcerita makanan di meja mereka lah, apa lah. Aku tertawa keras tapi tak sampai guling-guling. Mereka ingin pamer? Kan mereka tidak makan itu lagi! Duh.

Hingga akhirnya, aku sampai pada rigcerita sahabat dekatku. Isinya adalah orang yang ia video tepat ketika orang tersebut sedang memaki orang lainnya, “SETAN LU!” dan di tengah video itu, ada kotak pertanyaan. Temanku bertanya, ‘Bagaimana pendapatmu, gaes?’

Kujawab kemudian; Kemungkinan pertama, dia tidak pernah melihat bangsa kita. Atau kedua, antara kita dan mereka memang sudah menjadi makhluk yang tertukar. Ya Tuhan, semoga yang kedua.

Hendak menggeser menuju rigcerita selanjutnya, tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke ponselku. Tertera nama ‘Adik’ di layar. Kuangkat. Rupanya ia memintaku segera menuju tempat tinggal kami. Kuiyakan. Sekejap mata, aku sudah sampai di rumah besar dengan penghuni hanya dua manusia yang sudah lama kami anggap sebagai tempat tinggal kami—karena, seandainya mereka berdua tahu, lebih banyak keluargaku dibanding jumlah mereka.

“Kenapa, Dik?” tanyaku.

Ia berkata. “Kakak jaga di sini, aku ingin menyusul Ibu dan Ayah.”

“Oke.”

Adikku hilang seketika. Dan tinggallah aku sendiri. Atau berdua, bersama seorang pria pemilik rumah gedongan ini—baru kutahu saat ia duduk di kursi tengah ruang televisi, tepat di sampingku. Kulirik ia, letak telinganya pas di sebelah mulutku jika aku menoleh 90 derajat. Bisa saja aku membisiki sesuatu yang buruk padanya, misalnya menyuruhnya menonton video porno atau … tapi, ah … dia itu baik, makanya aku cuti menggodanya.

Dalam lirihnya, kudengar ia yang menatap langit-langit dengan perasaan sesal berbicara;

“Ya Tuhan, maafkan hamba-Mu ini. Hamba terlambat beribadah karena kesiangan. Mungkin tadi malam hamba tidur terlalu larut. Nanti malam, aku harus tidur lebih awal.” Tekad tampak di matanya ketika bicara kalimat terakhir.

Aku tersenyum puas. Nah, coba kalau tiap manusia introspeksi diri dulu sebelum menyalahkan yang lain. Kan enak jadinya.

Kulirik pria itu lagi sambil menaruh tangan di belakang kepala dan mulai bersandar santai. Boy, kugoda kau lain kali saja. Sekarang aku liburan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *