Ganjilnya UKT Camaba Unair Jalur SNMPTN

Ganjilnya UKT Camaba Unair Jalur SNMPTN

Gedung Rektorat Unair (sumber: Unair News)

Penulis: M. Faisal Javier Anwar dan Najmuddin Kholish

Kebijakan baru Unair yang membebankan Uang Kuliah Awal (UKA) dalam UKT golongan IV-B kepada calon maba jalur SNMPTN mengundang polemik serius. Kamis (18/4), kolaborasi beberapa ormawa Unair pun mengadakan audiensi dengan Direktur Keuangan, Dr. Ardianto.

Berdasarkan siaran pers hasil audiensi yang diterima LPM Mercusuar, pembebanan UKA kepada camaba merupakan implementasi Peraturan Rektor nomor 27 tahun 2018. Dalam siaran pers juga disebutkan bahwa pembebanan UKA disebut untuk memudahkan proses pembayaran perkuliahan.

Dalam siaran pers tersebut, telah dihasilkan solusi bagi mereka yang keberatan dengan pembebanan UKA, yakni dengan mengajukan permohonan untuk mengangsur biaya UKA atau mengganti UKT dengan alternatif UKT per semester. Selain itu, mekanisme pembayaran UKT untuk camaba jalur SBMPTN 2019 juga akan dikembalikan ke mekanisme sebelumnya.

“Baru itu, perjuangan belum selesai,” kata Ketua BEM Unair 2019, Agung Tri Putra, ketika dihubungi lewat media sosial Line. “Semua akan kita kaji ulang, masukan-masukan akan kami tampung.”

Terlepas dari advokasi yang telah dilakukan, LPM Mercusuar menemukan beberapa keganjilan dari pembebanan UKA bagi camaba jalur SNMPTN. Berikut penjelasannya.

Keganjilan Pertama: Memudahkan?

Agung menyebut bahwa yang dimaksud dengan jawaban Ardianto terkait mempermudah ialah nominal uang kuliah semester (UKS) yang harus dibayarkan mahasiswa nantinya per semester lebih murah dibanding UKT golongan IV-A.


rincian UKT mahasiswa Unair jalur SNMPTN 2019 (sumber: situs PPMB Unair)
rincian UKT mahasiswa Unair jalur SNMPTN 2019 (sumber: situs PPMB Unair)


rincian UKT mahasiswa Unair jalur SNMPTN 2019 (sumber: situs PPMB Unair)

rincian UKT mahasiswa Unair jalur SNMPTN 2019 (sumber: situs PPMB Unair)

“Kemarin kita usulkan untuk menghapus mekanisme UKA dan UKS. Dijawab bahwa kebijakan ini sudah berjalan, Mas, sudah ada yang bayar juga, jadi enggak bisa ditarik,” lanjut Agung.

LPM Mercusuar coba membandingkan UKT golongan IV-B dan IV-A beberapa jurusan dengan total nominal diasumsikan selama masa studi normal sarjana (Kedokteran dan Kedokteran Gigi sekitar tujuh semester, jurusan lain sekitar delapan semester). Temuan LPM Mercusuar, ada beberapa jurusan yang justru dengan penerapan UKT IV-B (UKA+UKS) lebih besar dibanding penerapan UKT IV-A.

  • Fisika: Total biaya selama delapan semester yang harus dikeluarkan mahasiswa yang mendapat UKT IV-B ialah Rp 81.000.000,- dengan rincian UKA sebesar Rp 25.000.000,- dijumlah UKS selama delapan semester, per semester Rp 7.000.000,-. Lebih mahal dibanding UKT IV-A dengan biaya per semester Rp 10.000.000,-, total selama delapan semester menjadi Rp 80.000.000,-.
  • Matematika: Total biaya selama delapan semester yang harus dikeluarkan mahasiswa yang mendapat UKT IV-B ialah Rp 86.000.000,- dengan rincian UKA sebesar Rp 30.000.000,- dijumlah UKS selama delapan semester, per semester Rp 7.000.000,-. Lebih mahal dibanding UKT IV-A dengan biaya per semester Rp 10.000.000,-, total selama delapan semester menjadi Rp 80.000.000,-.

“Itu yang dianggap Pak Ardianto sebagai mempermudah dan memperingan biaya semester. Padahal secara besaran saja sudah berbeda,” kata Agung.

Sedangkan untuk jurusan-jurusan lainnya, total biaya yang harus dikeluarkan mahasiswa dengan UKT golongan IV-B selama masa studi delapan semester lebih murah dibanding UKT golongan IV-A.

Keganjilan Kedua: Lebih Mahal Dibanding Jalur Mandiri Tahun-tahun Sebelumnya

Temuan berikutnya ialah besarnya total biaya UKT jalur SNMPTN 2019 golongan IV-A dan IV-B dibanding UKT jalur Mandiri tahun-tahun sebelumnya. LPM Mercusuar mengambil contoh jurusan Hubungan Internasional. Pada jalur Mandiri 2015, ada tiga golongan UKT yang dapat dipilih pendaftar dengan menyesuaikan kemampuan masing-masing tanpa seleksi berkas. Yakni golongan A (UKA Rp 30.000.000,- dan UKS Rp 6.000.000,-), golongan B (UKA Rp 15.000.000,- dan UKS Rp 8.000.000,-), dan golongan C (UKT Rp 10.000.000,-). Bandingkan dengan UKT IV-A dan IV-B sebagai dua golongan termahal di jalur SNMPTN 2019, masing-masing UKT Rp 14.000.000,- dan UKA Rp 45.000.000,- + UKS Rp 7.500.000,-.

Untuk batas tertinggi UKT jurusan Hubungan Internasional jalur Mandiri tahun 2015 (Golongan C), total biaya yang dikeluarkan untuk delapan semester Rp 80.000.000,-. Bandingkan dengan UKT golongan IV-B yang disebut meringankan biaya per semester, namun total biaya untuk delapan semester mencapai Rp 105.000.000,-.

“Jawabannya (Ardianto) masih sebatas bahwa universitas setiap tahun memiliki kebutuhan yang meningkat,” ujar Agung.

Keganjilan Ketiga: Peraturan Baru, Bertentangan dengan Permenristekdikti

Pembayaran Uang Kuliah Awal (UKA) berlaku bagi calon mahasiswa Unair dari seluruh jalur seleksi. Peraturan ini baru diterapkan pada tahun ini.

“SNM (SNMPTN -red) enggak ada UKA, Mas, kalau kemarin-kemarin, sekarang ditetapin ada UKA hanya untuk golongan 4B,” ujar Rizqi Akmal, mahasiswa Antropologi 2018.

Kebijakan ini diatur dalam Peraturan Rektor Nomor 27 Tahun 2018 pasal 1 ayat (63) yang berbunyi “Sumbangan Pembinaan dan Peningkatan Pendidikan (SP3) atau uang kuliah awal (UKA) atau nama sejenis adalah dana yang wajib dibayar oleh mahasiswa baru yang diterima melalui semua jalur penerimaan mahasiswa baru.”

Kemudian, kebijakan tersebut diperinci oleh Peraturan Rektor Nomor 21 Tahun 2019 pasal 2. Namun, sepertinya peraturan tersebut masih dalam bentuk fisik seperti yang terdapat di lampiran foto siaran pers hasil audiensi BEM Unair dengan Direktur Keuangan. Karena ketika dicari di kolom Produk Hukum situs resmi Unair, belum terdapat arsip elektroniknya.

Namun, penarikan UKA kepada mahasiswa jalur SNMPTN dan SBMPTN mengindikasikan ketidaksesuaian antara peraturan Rektor dengan peraturan Kemenristekdikti.

Peraturan tersebut ialah Peraturan Menristekdikti Nomor 39 Tahun 2017 pasal 8 ayat (1) yang berbunyi “PTN dapat memungut uang pangkal dan/atau pungutan lain selain UKT dari mahasiswa baru program Diploma dan program sarjana bagi:
a. mahasiswa asing
b. mahasiswa kelas internasional
c. mahasiswa yang melalui jalur kerja sama; dan/atau
d. mahasiswa yang melalui seleksi jalur mandiri.”

Padahal, Peraturan Rektor Nomor 21 Tahun 2019 dalam konsideransnya mencantumkan pula Permenristekdikti Nomor 39 Tahun 2017. Lantas, apa fungsi Permenristekdikti Nomor 39 Tahun 2017 dalam konsiderans, jika kebijakan Peraturan Rektor Nomor 21 Tahun 2019 isinya bertentangan?

Mungkin hanya petinggi kampus yang tahu.

*Artikel mengalami perubahan pada (24/4/2019). Terdapat kesalahan perhitungan di mana total biaya per semester Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi hanya dikalikan 7 semester (masa studi sarjana), bukan 11 semester (masa studi sarjana hingga memperoleh gelar dokter), sehingga terdapat kekeliruan total biaya pendidikan yang harus dikeluarkan hingga lulus. Taksiran kami saat itu, UKT IVB jauh lebih mahal dibanding UKT IVA bagi mahasiswa FK dan FKG selama masa studi 7 semester, padahal jika dihitung selama 11 semester, hasilnya sebaliknya. Kami memohon maaf atas kesalahan yang terjadi.

3 thoughts on “Ganjilnya UKT Camaba Unair Jalur SNMPTN

  1. Btw min FK itu 11 semester loh. 7 semester untuk S1 dan 4 semester untuk klinik/ koas/DM. FKG juga spt itu dan mereka juga tetap bayar UKT/UKS ketika DM/ koas

  2. Seperti diberitahukan sebelumnya, pada tahun akademik 2016 ini UNAIR menerima mahasiswa baru sebanyak 5.225 orang. Berdasarkan presentase, kuota SNMPTN dijatah sekitar 40%, dari jalur SBMPTN menerima 30%, dan dari jalur Mandiri sekitar 30%. (*)

  3. Anak saya diterima di jalur sbmptn dan merasa terkejut dan kecewa dikenakan biaya ukt 4. Dimanakah apresiasi Unair terhadap prestasi siswa? dan acuan verifikasi dengan kriteria spt apakah shg kami dikenakan biaya sebesar itu, tanpa kesempatan wawancara.

    Kalau anak kami masuk jalur mandiri, kami masih bisa menerima, ttp jika anak kami masuk jalur sbmptn ataupun utk yg masuk jalur snmptn, sungguh kami merasa tidak adil dan terdzolimi.
    Mohon maaf bagi kami, keputusan rektorat unair adalah keputusan yang tidak benar dan dzolim. Kiranya rektorat dapat berbesar hati utk mengkaji ulang keputusan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *