Kisah Penyintas Kekerasan Seksual Ulah Mahasiswa Unair

Kisah Penyintas Kekerasan Seksual Ulah Mahasiswa Unair

Ilustrasi (MERCUSUAR/Egi Sanjaya)

Tim Penulis: Dasa Feby dan M. Faisal Javier Anwar

Bulan Februari lalu, publik sempat dihebohkan dengan praktek kekerasan seksual jenis revenge porn yang dilakukan oleh salah satu mahasiswa FEB Unair berinisial ABA dengan melelang foto-foto pribadi mantan kekasihnya. LPM Mercusuar pun sebelumnya sudah menerbitkan pemberitaan terkait kasus tersebut dalam artikel berjudul Akankah Unair Memberi Sanksi terhadap Mahasiswanya yang Melakukan Revenge Porn Berkedok Prank?. Namun tidak berhenti di situ, LPM Mercusuar kemudian memutuskan untuk mengorek keterangan lebih dalam dari sudut pandang penyintas.

Melalui usaha yang panjang, LPM Mercusuar akhirnya berkesempatan menemui penyintas, Amba (bukan nama sebenarnya) pada awal bulan Maret di suatu tempat di Sidoarjo. Segala detail informasi yang kami paparkan telah mendapatkan persetujuan dari penyintas dengan berbagai pertimbangan.

***

Setelah menunggu beberapa menit, Amba akhirnya datang di tempat pertemuan yang telah disepakati. Salah satu anggota LPM Mercusuar, Faisal pun memutuskan keluar agar Amba dengan nyaman berbagi kisahnya dengan anggota LPM Mercusuar yang lainnya, Dasa.

Awalnya Amba keheranan ketika Faisal keluar ruangan dan ia pun bertanya kepada Dasa. “Loh, Masnya di luar, Mbak?” tanyanya.

Dasa yang tahu akan mendapat pertanyaan tersebut dengan segera berkilah. “Iya, dia mau merokok,” jawabnya.

Amba kemudian dengan cepat akrab dengan Dasa. Setelah mengobrol basa-basi sebentar, Amba pun membagikan kisahnya dengan Dasa. Perempuan yang masih duduk di kelas 11 SMA tersebut begitu lancar menceritakan kejadian-kejadian kekerasan seksual yang ia alami. Dasa pun heran dengan Amba yang berbagi kisahnya secara detail dan lancar tanpa diselimuti hambatan sedikitpun.

Amba menceritakan dari awal, bahwa sekitar bulan Juni 2018 ia dipaksa ABA untuk mengirimkan foto tubuhnya tanpa berbalut busana. Selang beberapa lama, Amba berkeinginan untuk menghapus foto tersebut dari ponsel ABA, karena merasa was-was foto tersebut akan tersebar.

Benar saja, sekitar akhir September 2018, salah seorang teman Amba memberitahukan jika ada akun konten dewasa di media sosial Line yang mengunggah foto tubuhnya tanpa berbalut busana. Amba yang marah meminta penjelasan ABA, tetapi saat itu ABA mengaku dia tidak pernah sekalipun menyebarkan foto tak senonoh Amba. “Pas aku tanya, dia jawabnya, ‘Aku enggak mungkin sebejat itu untuk ngeshare foto kamu’ gitu,” cerita Amba.

Takut hal serupa terjadi, Amba akhirnya benar-benar menghapus fotonya dari ponsel ABA. Namun, yang Amba dapatkan adalah amukan dan ancaman akan dipukuli jika menolak untuk segera berfoto tanpa busana lagi guna mengganti foto yang telah dihapus penyintas.

Amba yang takut dipukuli, terpaksa berfoto tanpa busana lagi dan mengirimkannya ke ABA. Foto tersebutlah yang nantinya ABA jadikan senjata untuk melancarkan revenge porn yang ia sebut sebagai prank.

Tidak cukup itu, masalah di antara keduanya kembali memuncak pada sekitar akhir Januari 2019, ABA memaksa Amba untuk berhubungan badan. Amba yang merasa hal tersebut kelewatan, dengan tegas menolak mentah-mentah permintaan ABA. Amba menceritakan jika dalam perjalanan menuju lokasi yang ingin dituju ABA untuk melakukan hubungan badan, mobil ABA berhenti beberapa kali untuk terus bertanya kepada Amba mau atau tidak untuk melakukan hubungan badan. Setiap kali Amba menolak, maka Amba harus siap menerima pukulan ABA. Hal tersebut terus berulang, hingga mobil ABA mendekati lokasi.

“Pas hampir sampai, dia tanya ‘Iki terakhir aku takon nak kon. Kon gelem gak dino iki?’ (ini untuk yang terakhir aku nanya kamu. Kamu mau hari ini, tidak?) , di detik yang sama aku jawab ‘enggak’, aku dipukuli lagi sampai bibirku sobek dan berdarah, bahkan sempat ditendang ketika mau buka pintu mobil. Intinya, dia akan terus mukuli aku, sampai aku mau dan bilang iya,” tutur Amba sambil menunjukkan foto-foto bukti penganiayaan yang ia alami.

Tiba-tiba Amba menceletuk, “oh, aku tahu kenapa Masnya keluar. Biar aku enak ceritanya ya,” ujarnya sambil tersenyum.

Dasa yang mendengarnya pun ikut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

Kemudian Amba lanjut bercerita jika saat itu, dia pasrah apa yang akan terjadi padanya. Amba sangat kesakitan, tapi tidak berani melawan sedikit pun dan hanya bisa menutup wajahnya dengan bantal mobil –sambil berharap bantal itu bisa melindunginya dari pukulan-pukulan ABA. Hingga ketika Amba tidak kuat lagi menahan rasa sakit, kemudian dia berteriak kearah ABA. “Pas aku teriak bilang sakit dan dia lihat kalau bantal sudah basah sama darahku, dia tiba-tiba nangis. Tapi habis itu dia bilang, ‘Makanya lain kali nurut saja apa yang aku bilang’,” cerita Amba sambil tertawa masam.

Menanggapi permintaan ABA tersebut, Amba kembali menegaskan jika dirinya bersedia menuruti ABA selama untuk hal baik, dan tentunya tidak untuk berhubungan badan. Atas penolakan kesekian kali tersebut, ABA kembali tersulut. Amba yang lelah menahan sakitnya dipukuli, sempat meminta ABA untuk lebih baik menabraknya saja daripada harus kembali dipukuli hanya karena menolak keinginan ABA.

“Aku pikir dia akan tersentuh dan minta maaf nggak ngulangi itu lagi. Tapi apa? Dia malah bilang, Enggak. Aku ancen pengen mateni kon (aku memang ingin bunuh kamu) dengan perlahan. Kalau besok-besok kamu berani nolak lagi, nyawamu di tanganku.’ Aku takut banget pas dia bilang gitu,” papar Amba.

Menghindari Pelaku

Setelah kejadian tersebut, Amba yang semakin takut dan mencoba menghindari ABA dengan berbagai cara. Hingga pada 28 Januari 2019 pagi, Amba melihat ABA telah berada di depan rumahnya. Bingung harus menghadapi ABA, Amba memutuskan untuk menelepon papa ABA (yang sebelumnya sudah pernah Amba beritahu jika ABA memukulinya) untuk meminta bantuan.

Setelah papa ABA sampai di rumah Amba, akhirnya ayah Amba juga menemui ABA dan papanya. Dalam pertemuan tersebut, papa ABA bercerita kepada ayah Amba jika ABA telah berperilaku kasar kepada Amba. Hal tersebut mengejutkan ayah Amba, karena selama ini Amba tidak pernah berani untuk bercerita jika dia mengalami perilaku kasar dari ABA. Pun jika mendapatkan luka lebam yang nampak mata, selama ini Amba mengaku dia hanya terjatuh atau menabrak meja.

Pada pertemuan pagi itu, ABA dinasihati dan diperingatkan dengan tegas untuk tidak lagi mengganggu Amba, sekaligus hubungan ABA dan Amba resmi putus. Amba menceritakan bahwa saat dia menyampaikan ingin putus karena merasa sangat trauma, ABA terlihat tersulut dan refleks menunjukkan gestur menantang –meski di depan orang tuanya dan orang tua Amba.

“Sampai diperingatkan lagi sama Ayah. Kan walau dia enggak bersuara apa-apa, Ayah bisa liat kalau air muka dia nggak terima. Dan tangan dia juga udah siap-siap mengepal gitu,” jelas Amba.

Setelah kejadian tersebut, Amba menutup segala akses komunikasi dengan ABA dan mencoba untuk menjalankan hari-harinya seperti biasa, termasuk untuk bermain bersama teman-temannya –yang mana beberapa tentunya juga teman ABA. Namun, hal tersebut membuat ABA marah dan cemburu. Amarah tersebut yang kemudian kemudian mendorong ABA untuk membuat snapgram berisikan giveaway foto tak senonoh Amba pada 12 Februari 2019. Mengetahui hal tersebut, Amba segera memperingatkan ABA.

“Pas aku marahi, chatku malah dibalas intinya kalau sampai aku berani keluar lagi, aku harus hati-hati karena fotoku akan dia jadikan special giveaway,” jelas Amba.

Amba menjelaskan bahwa ancaman special giveaway foto tak senonohnya yang dilabeli “bocoran” tersebut telah disebar ABA terlebih dahulu di Instagram dengan fitur Close Friends, sebelum akhirnya ABA melakukan lelang CD dan flashdisk berisi foto Amba –yang kemudian diklaim ABA sebagai prank. Hal tersebut ABA lakukan untuk menakut-nakuti dan agar Amba menuruti perkataannya.

“Dia sempat bilang ‘Awas lho kon lak ancen pengen pedhot, fotomu sek tak cekel kabeh,’ (awas kalau kamu memang ingin putus hubungan, aku masih punya semua foto tak senonohmu) untuk ngancam aku. Jadi walau dia bilang itu cuma prank, tapi sebenarnya dia sudah nyebarin foto aku,” papar Amba.

Sebenarnya Amba dan keluarganya telah meminta keluarga ABA untuk memasukkan ABA ke dalam pesantren khusus agar mendapatkan pendampingan, untuk kebaikan ABA dan tentunya agar kejadian serupa tidak terulang. Namun, bahkan dua minggu lebih setelah ABA melalukan revenge porn berkedok prank tersebut, masih belum ada tindakan tegas apapun dari keluarga ABA. “Aku sudah bilang lagi ke papanya, tapi cuma dibalas minta maaf. Aku bingung, kok segampang itu,” sesal Amba.

Mengetahui jika hingga saat ini status ABA diskors satu semester oleh Unair, Amba berharap agar Unair dapat mengeluarkan ABA. “Sudah, drop out saja. Kasihan Unair, buat apa pelihara mahasiswa macam gitu,” ucap Amba dengan nada kesal.

Berjuang Sembuhkan Rasa Trauma

Meski ia begitu lancar bercerita, Amba bercerita jika hingga detik ini ia masih belum sepenuhnya sembuh dari rasa takut. Amba mengaku ketika awal-awal kejadian, ia pasti akan menangis setiap kali menceritakan kejadian yang ia alami.

Pengakuan tersebut terkuak saat Dasa spontan bertanya mendengar cerita Amba tentang kronologi penganiayaan yang ia alami di mobil. “Hee sedih, kamu enggak nangis, tah?” tanyanya.

“Dulu setiap cerita pasti aku nangis. Tapi Alhamdulillah, semakin ke sini dengan semakin banyak sharing, aku udah nggak nangis lagi kalau bercerita masalah ini,” jawab Amba.

Mengenai dampak psikologis dari kejadian yang dialaminya, Amba mengaku jika kini ia takut untuk dekat atau ketika didekati laki-laki. Amba bercerita bahkan ia pernah di titik ketika ada temannya yang berpacaran bertengkar di depannya, malah ia yang mendadak histeris dan ketakutan jikalau temannya akan dipukul –padahal tidak ada pemukulan apapun saat itu.

“Trauma. Jadi takut sama cowok, apalagi cowok yang juga bawa mobil. Mama bilang aku enggak bisa sembuh sendiri dan nyaranin untuk berobat, jadi aku harus dan akan segera berobat kok,” jelas Amba.

Langkah Unair Tangani Kasus

Dr. M. Hadi Subhan selaku Direktur Kemahasiswaan Unair sebelumnya telah menyampaikan bahwa kampus telah menonaktifkan sementara ABA dari kegiatan belajar mengajar selama satu semester. Kepastian tersebut ia sampaikan saat acara  Diskusi Berdikari “Isu Gender dan Kekerasan Seksual di dalam Institusi Perguruan” yang diselenggarakan Kementerian Politik dan Strategi BEM FISIP Unair di Ruang Adi Sukadana FISIP Unair, Rabu (27/2).

“Setelah kami teliti, ternyata si pelaku ini secara kejiwaan kurang jangkep (kurang sehat -red). Oleh karena itu memutuskan untuk mengistirahatkan si pelaku, mungkin sekitar satu semester,” jelas Hadi.

Ketika LPM Mercusuar menemui Hadi di ruangannya pada Senin (12/3), ia menjelaskan bahwa keterangan penyintas yang kembali diceritakan Dasa banyak sesuai dengan pengakuan pelaku ketika dipanggil oleh kampus setelah kontroversi kasus revenge porn tersebut mencuat di publik, termasuk soal penganiayaan yang dilakukan pelaku terhadap penyintas.

Hadi mengulangi bahwa kampus telah mengambil langkah atas kasus yang melibatkan ABA sebagai mahasiswa Unair. “Bahkan jauh sebelum anda bertanya, kampus (FEB) sudah menanganinya,” ujarnya.

“Ada sesuatu yang harus dibereskan dari kejiwaan si pelaku, sehingga si pelaku harus dikonseling, di-off-kan (dinonaktifkan) satu semester agar ia menyadari perbuatan yang telah ia lakukan. Walaupun itu urusan luar, tapi kami tidak membiarkan sama sekali,” lanjutnya menjelaskan bahwa ABA langsung dinonaktifkan pasca kasus tersebut menghebohkan publik.

Hadi juga bercerita bahwa konseling terhadap pelaku pun dilakukan oleh lembaga khusus dari Fakultas Psikologi Unair. Penanganan kasus menurut Hadi dipimpin langsung oleh Ketua Departemen Manajemen.

Namun, Hadi mengakui bahwa pihak kampus juga hanya berwenang menonaktifkan pelaku sementara selama satu semester lantaran kasus tersebut juga bukan berada dalam ranah wewenang Unair untuk menuntaskannya.

“Tindakan tersebut adalah tindakan yang melanggar hukum. Hanya saja kita membatasi diri. Kita membatasi karena pelanggaran itu apakah kaitannya dengan kampus atau tidak,” tuturnya.

Hadi kemudian memberikan analogi terhadap wewenang Unair dalam kasus ini. “Semisal anda sedang di Jakarta, kemudian anda memukuli orang. Apakah kampus berwenang memberikan sanksi (DO) atau tidak?,” jelasnya.

“Karena yang akan kita sanksi adalah bagian dari kita (civitas akademika), kalaupun sanksi (diberikan) harus yang mendidik. Kita ada kewajiban menegakkan tagline excellence with morality,” lanjutnya.

Ia pun membandingkan wewenang kampus dalam kasus ini dengan kasus Agni yang terjadi di UGM sehingga Unair hanya menonaktifkan pelaku sementara selama satu semester sembari memberikan konseling terhadap pelaku. “Beda dengan UGM yang (dalam) kegiatan kampus (KKN), dan korbannya sesama mahasiswi sehingga harus ada kepedulian lebih,” jelasnya.

Walaupun Unair tak memiliki wewenang lebih dalam kasus ini, Hadi menegaskan bahwa perbuatan yang dilakukan oleh ABA tetap tak dapat dibenarkan. “Sekali lagi, kekerasan seperti itu tidak dibenarkan,” tegasnya.

Hadi juga menegaskan apabila korban nantinya ingin memproses kasus yang ia alami, sebaiknya korban dapat melaporkannya pada pihak kepolisian agar dapat diproses sebagai aduan masyarakat umum, lantaran kasus yang terjadi tidak berada dalam ranah Unair.

Ketika LPM Mercusuar bertanya kemungkinan Unair mengeluarkan ABA seperti yang diharapkan penyintas apabila kasus tersebut berlanjut hingga proses hukum oleh aparat, Hadi menjawab bahwa Unair baru berwenang memberi langkah lebih lanjut jika kasus tersebut nantinya telah memiliki kekuatan hukum tetap. Ia kemudian menunjukkan dasar hukumnya yang tertera dalam Pasal 40 ayat 2 Peraturan Rektor Universitas Airlangga Nomor 27 Tahun 2018 tentang Pedoman Pendidikan Universitas Airlangga.

Dalam Pasal 40 ayat 2 sendiri diatur bahwa kampus dapat memberikan sanksi sebagaimana yang telah diatur dalam pasal 39 apabila mahasiswa telah dihukum berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan tersangka telah melakukan suatu tindak pidana.

Sulitnya Menuntaskan Kasus Kekerasan Seksual

Menuntaskan kasus kekerasan seksual seperti yang dialami oleh Amba ternyata bukanlah hal yang mudah di Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh advokat publik LBH Surabaya, Yaritza Mutiara.

“Pelaku bisa dijerat dengan hukum pidana. Tidak hanya itu, pelaku juga dapat dijerat dengan UU ITE dan UU Perlindungan anak selama terpenuhi bukti-buktinya,” ujarnya saat LPM Mercusuar hubungi melalui Whatsapp.

Hanya saja ia menyebut bahwa selama ini dalam prakteknya, penyelesaian hukum kekerasan seksual dengan aturan hukum yang ada selama ini selalu berlarut-larut.

“Masalahnya kasus pelecehan seksual yang dialami oleh perempuan untuk pelaporannya selalu lama karena masih menunggu bukti-bukti yang bisa meyakinkan pihak penyidik meski dia sudah tes visum,” jelasnya.

Yaritza juga menjelaskan bahwa proses yang terlalu lama tersebut juga dimanfaatkan korban dan tim hukum pendamping korban untuk mencari bukti-bukti penguat tambahan. Hanya saja ketika kemudian bukti yang diajukan tetap dinilai tidak kuat bukan tidak mungkin penyidikan kasus dihentikan.

“Kalau bukti tetap tidak kuat ya akhirnya keluar surat SP3 dari penyidik (kalau kasus) tidak diproses lagi,” lanjut Yaritza.

Dalam Risalah Kebijakan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual “Bagaimana Acara dalam Penanganan Kasus Kekerasan Seksual” yang dikeluarkan oleh Komnas Perempuan, selama ini penanganan hukum kasus kekerasan seksual di Indonesia memang belum berpihak pada korban. Penggunaan KUHAP yang digunakan untuk menjerat tersangka tindak pidana-dalam hal ini kasus kekerasan seksual- secara asas dan tujuan ternyata masih belum memperhatikan kepentingan terbaik bagi korban. Keterangan di pengadilan hanya sepihak datang dari pelaku, selain itu hak-hak korban, keluarga korban, dan saksi pun tidak terjamin.

Aturan hukum yang tidak berpihak pada korban kekerasan seksual juga rentan membuat proses hukum malah menjadi ajang untuk menyudutkan korban. Seperti pernyataan Kapolri yang memaklumi pertanyaan polisi kepada korban “apakah merasa baik-baik saja setelah diperkosa dan apakah selama pemerkosaan merasa nyaman?”.

Kasus Amba hanyalah kepingan kecil dari kasus kekerasan seksual yang terus menggunung di Indonesia. Oleh karenanya penuntasan kasus kekerasan seksual harus dilihat secara komprehensif agar dihasilkan penyelesaian yang berkeadilan bagi korban.

“Permasalahan kekerasan seksual tidak bisa hanya ditangani oleh korban dan keluarga, tetapi juga membutuhkan perubahan substansi, struktur dan kultur hukum,” tulis Komnas Perempuan dalam Risalah Kebijakan RUU PKS.


Terima kasih telah membaca liputan khusus kami yang mengangkat kisah penyintas kekerasan seksual. Bagi anda yang pernah mengalami kasus kekerasan seksual namun bingung harus bertindak apa, kami sarankan anda dapat menghubungi Komnas Perempuan di: 021-3903963.

One thought on “Kisah Penyintas Kekerasan Seksual Ulah Mahasiswa Unair

  1. Today, I went to the beachfront with my children. I found a sea shell and gave
    it to my 4 year old daughter and said “You can hear the ocean if you put this to your ear.” She put the shell
    to her ear and screamed. There was a hermit
    crab inside and it pinched her ear. She never wants to go back!
    LoL I know this is completely off topic but I had to tell
    someone!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *